THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Rabu, 25 Agustus 2010

Cita-Citaku

-Cita-Citaku-
Disclaimer : Bleach © Tite Kubo
Rated : K+
Genre : Family/Hurt/Comfort
Pairing(s) : ByaHisa
WARNING : AU, typo(s), (sedikit) OOC, all of this story is Rukia's POV
Summary : Kalau yang lain punya cita-cita ingin jadi insinyur, polisi, dokter, aku lain. Aku hanya ingin ayahku mengambil raporku dan berkata bangga, 'itu putriku'.


Namaku Rukia Kuchiki, aku kelas dua SD, usiaku masih sangat muda, enam tahun. Mungkin aku yang paling muda di kelas karena aku masuk SD Karakura ini saat berumur lima tahun. Itu pun agak sulit karena saat yang lain dapat masuk dengan mudah, aku harus menjalani tes membaca dan berhitung. Beruntung aku memiliki otak yang cukup cerdas hingga dapat melewati tes itu dengan mudah.

Baiklah, SD Karakura ini adalah sekolah elit dengan hanya murid-murid terpilih saja yang dapat diterima. Walau kau punya uang banyak, namun jika otakmu tak cemerlang, kau tak akan mampu untuk masuk ke sekolah ini. Benar-benar ketat, bukan? Ya, itulah sekolahku.

Di SD Karakura juga ada fasilitas asrama putra dan putri, aku termasuk satu dari sekian banyak siswi putri yang tinggal di asrama. Aku ini agak nakal, senang memanjat pagar dan bermain dengan anak laki-laki di asrama sebelah. Biasanya kami bermain sepak bola atau petak umpet, kalau sudah begitu, Unohana-sensei, kepala asrama putri, pasti akan memarahiku habis-habisan. Tapi tak sekalipun aku kapok, tuh. Hihihi...

Ahh ya, hari ini Sabtu pagi, saat beberapa murid di asrama untuk pulang ke rumah, aku duduk di kursi taman dekat gerbang. Namun, aku yakin, hari ini ibu tak akan menjemputku. Karena ini awal minggu, dan aku pulang ke rumah paling cepat seminggu sekali. Atau jika orang tuaku sibuk di luar kota, aku hanya pulang ke rumah satu bulan sekali. Sedih sekali rasanya melihat teman-temanku yang dipeluk oleh orang tuanya di depan gerbang, sementara aku hanya dapat menontonnya. Apalagi Senna, teman sekelasku, sering sekali mengejekku dan berkata kalau aku tak disayang, karena itu aku tak dijemput. Aku semakin sedih, kadang aku jadi marah dan bertengkar dengannya.

"Rukia," sapa seseorang, yang tentu saja mengejutkanku.

"Ichigo," aku menoleh pada siswa berambut oranye yang kini duduk di sampingku.

"Tak dijemput lagi?"

"Ya. Kau pasti akan mengejekku."

"Hari ini tidak, soalnya aku pun tidak dijemput."

"Jadi kalau kau dijemput, kau akan mengejekku? Begitu?"

"Niatnya. Hehehe..." Ichigo nyengir lebar, membuatku kesal saja.

"Menjauhlah dariku!" sahutku sebal.

"Rukia, kau ini sensitif sekali. Aku hanya bercanda tauk!" Ichigo berkacak pinggang.

"Terserah kau saja."

"Iya, maaf. Nanti, saat jam bebas, ku belikan es krim vanila di kantin!" rayu Ichigo.

"Betulan, ya?"

"Hm," Ichigo mengangguk.

Aku tersenyum, lalu menggerak-gerakkan kakiku. Ichigo pun ikut tersenyum lebar. Entah sejak kapan aku bisa dekat dengan cowok cengeng ini. Yang aku tahu, saat itu Ichigo hanya kesulitan mengerjakan PR dan kebetulan aku sedang mampir ke asrama putra. Aku pun membantunya mengerjakan PR dan kami berdua jadi dimarahi oleh Ukitake-sensei yang saat itu sedang berkeliling asrama putra. Akhirnya setiap jam pulang, kami tak langsung kembali ke asrama, tapi mengerjakan PR bersama karena ternyata, Ichigo baru sadar kalau kami sekelas. Ampun deh, ingatannya tentang nama dan wajah orang itu sangat lemah sekali.

Ichigo cengeng. Ia sering sekali menangis saat kalah bermain ataupun saat tak bisa mengerjakan soal. Namun kau dapat melihat wajahnya yang amat bahagia saat melihat ibunya yang menjemputnya setiap seminggu sekali. Jarang sekali ibunya itu absen kecuali jika benar-benar ada acara mendadak.

"Hei, Rukia!"

"Apa?"

"Kau sudah mengerjakan PR?"

"PR?"

"PR Bahasa Indonesia yang tentang menceritakan cita-cita kita itu."

"Belum."

"Nanti kerjakan sama-sama, yuk!"

"Tidak mau, nanti aku dimarahi lagi oleh Unohana-sensei."

Ichigo mengerucutkan bibirnya tanda sebal, tapi aku tak perduli. Sebenarnya, perduli sih, hanya saja, aku sedang malas bermain ke asrama putra. Soalnya tadi ku lihat Renji, Kira, dan Hisagi pulang ke rumahnya, aku jadi tak ada teman bermain.


Senin pagi...

Tak tuk tak tuk tak tuk

Aku mengetuk-ngetuk pensil mekanik yang kugunakan untuk menulis. Di depan kini ada teman sekelasku, Orihime Inoue yang sedang membacakan hasil pekerjaannya. Aku hanya memandang sekeliling sambil sesekali melirik ke arah Inoue, memperhatikannya.

Sejak tadi bermacam-macam cita-cita telah dibacakan. Aku jadi merasa minder dengan hasil pekerjaanku. Ku lihat ke arah Aizen-sensei, sepertinya ia puas dengan hasil pekerjaan Inoue yang memang bagus. Cita-citanya banyak, ingin menjadi dokter, astronot, tukang masak, dan entah apalagi.

"Rukia Kuchiki."

Tak terasa sudah giliranku. Aku membawa buku tugasku ke depan kelas, lalu perlahan membalik halamannya. Setelah itu, aku menghela nafas dan mulai membaca kata-kata yang tertulis di situ.

"Kalau yang lain punya cita-cita ingin jadi insinyur, polisi, dokter, aku lain. Aku hanya ingin ayahku mengambil raporku dan berkata bangga, 'itu putriku'."

Walau sedikit, aku dapat melihat reaksi bingung yang ditunjukkan oleh Aizen-sensei dan teman-temanku. Aku pun kembali melanjutkan membaca pekerjaanku lagi.

"Karena ayahku selalu sibuk bekerja, aku sedih. Padahal aku anak satu-satunya, tapi ia tak pernah menyempatkan waktu untukku."

Kali ini terlihat mata Aizen-sensei agak berkaca-kaca. Aku tak tahu mengapa, namun aku tak mungkin menghantikan membaca pekerjaanku.

"Karena itu, untuk mewujudkan cita-citaku, aku akan belajar dengan keras agar ayahku mengambil raporku dan bangga padaku. Sekali saja. Itu akan membuatku amat bahagia. Itulah cita-citaku."

Singkat. Namun mungkin karena tulisanku besar-besar, tulisan itu memenuhi separuh dari buku tulisku. Aizen-sensei memanggilku, lalu membaca tulisan di buku tulisku dan memberikan nilai di sana.

"Kuchiki, sensei yakin suatu saat ayahmu akan datang untuk mengambil rapormu," ia menghapus air mata di sudut matanya.

"Aku akan menunggunya!" jawabku semangat.

Aizen-sensei pun mempersilahkan aku duduk, dan aku menurutinya. Hinamori, teman sebangkuku memujiku, dan hanya ku tanggapi dengan senyuman.


Beberapa bulan kemudian...

Satu hari sebelum pembagian rapor. Aku menemui ayahku, Byakuya Kuchiki, di ruangan kerjanya. Sebenarnya sungguh aku sangat takut awalnya, namun akhirnya aku memberanikan diri dengan sekuat tenaga.

"Ayah."

"Hn?"

"Besok Rukia dapat rapor."

"Ya."

"Rukia belum bilang pada ibu."

"Bilang padanya."

"Rukia ingin ayah..."

"Ayah sibuk."

"Hanya sebentar, Yah."

"Ayah sibuk."

"Tak bisa walau hanya sebentar?" pintaku setengah memohon.

"Tidak."

"Rukia mohon..."

"Jangan ganggu ayah," ucapnya tegas.

Aku pun mengalah dan keluar dari ruangan kerjanya. Jika ayah berkata begitu, itu artinya ia benar-benar sibuk dan tidak ingin diganggu. Aku amat kesal, ingin sekali marah pada ayah, namun aku tahu, percuma saja. Akhirnya aku kembali ke kamar dan menangis sejadi-jadinya di sana.

Aku sunggu tak tahu apa yang membuatku amat sedih seperti ini. Air mataku mengalir begitu saja saking kesalnya. Tak lama kemudian, ibuku, Hisana Kuchiki, masuk ke dalam kamarku.

"Kenapa, Rukia?"

"Ayah tak bisa mengambil rapor Rukia lagi, bu."

"Ya sudah, kalau begitu, biar ibu yang ambil."

"Rukia nggak mau! Rukia mau ayah yang ambil!"

"Rukia, mengertilah kalau ayah sibuk."

"Sebentar, bu... Hanya mengambil rapor, lalu ayah kan bisa pergi!" aku menangis sesengukan.

"Cup cup, sayang," ibu memelukku dengan sayang.

Entah berapa lama hingga akhirnya aku berhenti menangis dan tertidur di pelukan ibu. Aku tahu, ayahku tak akan pernah sempat untuk mengambil raporku. Tak akan.


Keesokan harinya...

Benar. Ayah tak ada diruang kerjanya. Ayah juga tak ada di ruangan manapun di dalam rumah. Pastilah ia sudah berangkat kerja dan sibuk dengan kertas-kertas yang berisi pekerjaan. Ada meeting atau semacamnya yang tak dapat aku mengerti.

Aku pun berangkat ke sekolah untuk mengambil rapor bersama dengan ibu. Sama seperti tahun sebelumnya, ayah tak sempat mengambil raporku. Aku menunduk lesu di dalam mobil, rasanya tak semangat sekali.

"Rukia, ayo tersenyum," pinta ibu.

Kali ini aku tak mengindahkannya, aku tetap menunduk lesu sambil memainkan ujung rok terusanku. Hingga sampai di depan gerbang sekolahku pun, aku tetap begitu. Rasanya aku ingin menangis lagi.

"Kesal datang ke sini kalau ternyata putriku berwajah sedih begitu."

Itu...

"Ayah?"

Ya, di depanku berdiri ayahku, pria bertubuh tinggi tegap dan berambut hitam panjang. Aku menghambur memeluknya dengan erat, lalu tersenyum lebar kepadanya. Ia hanya membalasnya dengan senyuman kecil, lalu menggendongku.

"Udah nggak cemberut lagi, kan?" tanya ibu.

"Nggak!" jawabku.

"Kenapa murung?" tanya ayah.

Aku tak menjawabnya, hanya tersipu karena tak mungkin aku menjawab kalau aku sedih karena ayah tak bisa mengambil raporku. Ayah mencubit pipiku pelan lalu berjalan dengan aku di gendongannya menuju ke kelasku.

Aizen-sensei, wali kelasku sudah duduk manis di meja guru dan tersenyum saat aku, ibu dan ayah masuk ke kelas. Setelah itu, kami pun duduk di salah satu kursi kelas sambil menunggu namaku dipanggil.

"Grimmjow Jeagerjaques"

"Hisagi Shuuhei."

"Ichigo Kurosaki."

"Michiru Ogawa."

"Ise Nanao."

"Nemu Kurotsuchi."

"Orihime Inoue"

"Rukia Kuchiki."

Ayah bangkit dari tempat duduknya sambil memegang tanganku untuk berjalan bersama dengannya. Ibu pun mengikuti di belakang kami. Ayah duduk di kursi tepat di depan Aizen-sensei sambil memangkuku.

"Wah, wah, Rukia ranking satu lagi, ya?" tanya Aizen-sensei.

"Iya?" tanyaku balik.

"Ya. Selamat ya, Rukia!"

"Hebat sekali, ini baru putriku," kata ayah.

"Sepertinya, cita-citamu sudah tercapai, Rukia," ucap Aizen-sensei.

"Ya, sensei!" jawabku sambil tersenyum.

Ayah pun menanda tangani daftar hadir dan mengambil raporku. Setelah mengucapkan terima kasih, kami pun kembali pulang ke rumah bersama-sama. Di jalan, ibu membisikkan sesuatu padaku. Mau tahu?

Sebenarnya, ayah melihat buku pekerjaanku yang berisi tentang cita-citaku. Ayah juga yang sering membetulkan pekerjaan rumahku jika aku pulang ke rumah. Lalu, kemarin ayah nyaris menangis karena mendengar aku menangis di kamar saking sedihnya. Namun akhirnya, ayah meminta ibu untuk menghiburku.

Ayah, Rukia sayang pada ayah!

~OWARI~

Read More......

King

-King-
Disclaimer : Bleach © Tite Kubo
Rated : T
Genre : Friendship/Hurt/Comfort
Pairing(s) : -
WARNING : typo(s), (sedikit) OOC, black is Zangetsu's POV, white is Hichigo's POV
Summary : Ya, Ichigo, kau adalah raja di dunia ini. Jadilah lebih kuat dan tetap percayalah pada kami.


He's strong... Zangetsu... train him well... because one day, that power will become all mine. (Dark Ichigo)


-Black-

Dari awal aku tahu kalau masterku adalah orang yang agak sembrono dan sering turun ke medan perang tanpa strategi. Polos, apa adanya, namun berkeinginan kuat untuk menang dan emosinya mudah terpancing ketika orang yang ia kasihi di sakiti. Ya, aku tahu, ia masih sangat labil karena usianya yang jauh lebih muda daripada aku. Tapi, yang tidak ku mengerti adalah si putih yang merupakan bagian dariku jika Ichigo percaya padaku, namun jika Ichigo tidak lagi percaya padaku, aku yang akan menjadi bagian darinya. Siapa dia? Hichigo.

Aku tak pernah kesepian sedikit pun walaupun harus tinggal sendirian di inner world Ichigo. Sendirian? Sepertinya tidak juga. Kau pasti bisa menebak, kan? Ya, aku tetap di sini bersama dengan Hichigo.

Sebentar, hari ini cuaca mendung, menandakan kalau akan segera turun hujan. Ini berarti Ichigo sedang gusar dan bimbang. Ku lirik seseorang yang ada di dekatku, ia sedang mengutak atik sebilah pedang, entah mau ia apakan. Tapi selanjutnya, hal itu membuatku tertarik.

"Apa itu, Hichigo?"

"Ini? Pedang."

"Aku tahu. Untuk apa?"

"Apa ya? Ng, melawan King?" jawabnya asal.

Melawan King? Maksudnya melawan Ichigo? Lucu sekali. Ia cepat mengetahui kalau masternya akan segera kalah. Ya, Ichigo, ini karena kau ragu-ragu dan menyimpan rasa takut entah pada siapa. Bodoh. Hanya Kenpachi Zaraki saja, kan? Lalu kenapa kau takut?

"Hei, Zangetsu! Lebih baik kau hampiri dia."

"Untuk apa?"

"Bodoh! Kalau dia mati bagaimana?"

"Benar juga."

Makhluk putih itu tersenyum menyeringai, mengerikan. Tapi aku sama sekali tak takut padanya. Akhirnya aku pun memutuskan untuk menghampiri Ichigo dan menolong anak itu di dunianya. Benar saja. Seandainya aku terlambat satu detik saja, mungkin ia sudah mati.

"Ichigo, untuk apa kau bertarung? Apa untuk bertahan hidup?"

"Bertahan hidup? Bertahan hidup saja tidak cukup, aku ingin menang!" aku dapat mendengar jelas jeritan hatinya.

Akhirnya aku memutuskan untuk membawanya ke duniaku, inner worldnya. Hichigo sudah selesai mengutak atik pedang yang tadi ia katakan akan ia gunakan untuk melawan Ichigo. Ku lemparkan pedang itu pada Ichigo, lalu menyuruhnya bertarung. Melawan siapa? Tentu saja melawannya.


-White-

Yeah! Rasanya aku ingin berteriak senang ketika Zangetsu mengizinkanku untuk menggunakannya ketika melawan si payah ini. Si payah yang harus ku panggil dengan sebutan King. Oke, aku takkan memanggilnya King sekarang, terlalu formal dan akan membuatnya besar kepala. Partner saja sudah cukup, kan?

"S-si-siapa, kau?"

"Aku? Aku adalah kau, partner!"

"Kau? Itu? Zangetsu-ku!"

"Zangetsu-mu? Hei, partner, apa jika kau baru mengenal seseorang, kau akan langsung memilikinya? Tidak, kan?"

King terdiam. Oh, ayolah! Jangan pasang tampang bodoh begitu, ku tusuk, ya? Aku pun menyeringai senang sambil memutar Zangetsu dan sesekali mengarahkannya pada King. Ayo, King! Percaya pada Zangetsu dan kau akan menang! Percaya pada Zangetsu dan langit inner worldmu akan kembali cerah! Ayo, King! Buang rasa takutmu yang tak berguna, itu!

King dengan cepat menghindari seranganku yang terus menerus padanya. Sesekali ia melirik Zangetsu dan menatap sebal padaku. Hahahaha... Ini mengasyikkan sekali! Ingin rasanya lebih lama bertarung dengannya jika seperti ini. Ku ulangi lagi menyerangnya dengan cara melempar mata zanpakutonya, Zangetsu.

Namun...

Trang!

Yah, rupanya Zangetsu sudah kembali padanya. Sebal sih karena kehilangan keasyikan melawannya, tapi, ya sudahlah. Toh langit sudah kembali cerah lagi dan King sudah kembali ke dunianya, keluar dari inner worldnya.

"Maaf sudah merepotkanmu."

"Tak apa."

"Cara bertarungmu berbeda, seolah kau sudah mengerti dia."

"Tidak tidak, tak ada satupun dari kita yang mengerti bagaimana King, Zangetsu!"

"Kau salah, Hichigo, justru kita yang paling mengerti Ichigo karena kita yang terdekat dengan hatinya."

"Kau naif. Tapi, terserah kau saja. Urusannya sudah selesai, kan? Cepat pulangkan aku!"

"Baiklah."

"Ng, Zangetsu?"

"Apa?"

"Dia kuat. Kau harus melatihnya dengan baik, karena suatu saat, kekuatannya akan menjadi milikku."

"Ya."

Aku pun kembali padanya. Zangetsu. Baiklah, kali ini kan ia lebih kuat daripada aku, jadi akulah yang menjadi bagian dari dirinya. Selain itu juga, King masih percaya padanya dan belum membutuhkanku.


-Black-

Baiklah Ichigo, sekarang tinggal bagaimana kau akan menggunakan aku. Aku percaya padamu dan kau boleh menggunakan kekuatanku sesuka hatimu untuk melawan musuh yang ada di hadapanmu. Ia hanya sendiri, kan? Kenpachi Zaraki sekarang berdiri sendiri di hadapanmu dan apakah itu membangkitkan semangat bertarungmu? Ku harap iya.

Aku dapat melihat kau menggunakanku dengan agak ragu, sesekali takut karena Kenpachi tidak jatuh walaupin kau tebas berkali kali. Sesekali kau merasa sedikit sesak karena reiatsu yang dikeluarkan oleh Kenpachi ketika ia melepas penutup mata kanannya.

Jangan takut, Ichigo! Jangan ragu! Maju dan kalahkan dia. Percayalah, kau tidak bertarung sendirian, masih ada aku yang akan menolongmu untuk menang. Aku pun jadi merasa berkewajiban untuk menolongnya menang. Tidak lucu, kan, di saat-saat genting seperti ini, ia harus mati?

Deg!

Aku dapat merasakan degupan jantung Ichigo yang makin kuat.

Deg!

Oh, bukan hanya degupan jantungnya, tapi si putih juga. Apa yang mau kau lakukan, Hichigo? Apa saat ini kau akan keluar? Kau bisa membunuhnya!

Deg!

Tidak, aku harus menahannya agar tidak keluar, selain untuk keselamatan Ichigo, Hichigo juga harus menyimpan kekuatannya untuk melawan kapten lain. Aku pun terpaksa muncul lagi untuk meyakinkan Ichigo bahwa ia bisa menghabisi Kenpachi Zaraki dalam satu tebasan.

"Aku sudah kehabisan tenaga untuk menghentikan pendarahanmu, Ichigo," kataku berbohong, aku tak mungkin selemah itu.

"Ya, kupinjamkan kekuatanku, gunakan sesukamu dan bantu aku."

"Baiklah. Kita habisi dalam satu serangan."

Tekadnya kuat, bulat. Aku dapat melihat reiatsu keduanya kini seimbang. Mereka berdua akhirnya maju bersama, terus melangkah dengan cepat dan akhirnya...

BLAR!

Keduanya tumbang. Ichigo tumbang lebih dulu, namun tak lama kemudian, Kenpachi menyusulnya dan mungkin memang bisa dibilang, ia kalah. Walau sama-sama terluka, walau sama-sama tak sadarkan diri.


-White-

Sudah berapa lama aku tak diizinkan keluar oleh Zangetsu? Sehari? Dua hari? Satu minggu? Aku tak tahu karena sense waktuku agak kacau kalau sedang berada bersama dengan pria tua itu. Menyebalkan sekali, aku tak boleh melihat King bertarung.

Baiklah, sekarang ia mengizinkanku keluar, dan kau tahu, apa yang ku lihat? King sudah mendapat bankainya dan sekarang tengah melawan Byakuya Kuchiki. Cih! Aku ingat dia. Dia itu orang yang sempat nyaris mengambil kekuatan shinigami King. Untung saja itu hanya kekuatan shinigami adiknya, Rukia Kuchiki.

"Jadi, kenapa kau memanggilku?" tanyaku pada Zangetsu.

"Perlu ku jelaskan?"

"Oh, tidak juga. Aku sudah terlanjur mengerti."

"Bagus kalau begitu."

"Apa kau benar-benar melatihnya selama aku tak ada?"

"Sesuai permintaanmu, kan?"

"Belum, ia masih payah."

"Makanya aku memanggilmu."

"Benar juga. Tak apa kalau ia tak percaya lagi padamu?" tanyaku sambil tersenyum menyeringai.

"..." tak ada jawaban, namun aku dapat melihat wajahnya yang tetap percaya pada King.

Benar. Sampai kapanpun kami berdua adalah kekuatannya. Sekuat apapun tenaga King untuk mau menolaknya, ia tak akan mungkin bisa menghilangkan aku ataupun Zangetsu. Karena ini adalah takdirnya, kan? Jadi, kami pun harus percaya pada King, agar ia dapat percaya pada kami.

"Menggelikan," komentarku, yang tentu saja tak ditanggapi Zangetsu.

Kau tahu? King kalah. King kalah lagi pada Byakuya setelah bersikeras dapat menang melawannya. Oh, ayolah! Jangan pasang wajah kalah begitu. Kau belum sepenuhnya kalah, berpikirlah untuk jadi lebih kuat, kau masih punya aku, King! Percayalah padaku.

Deg!

Ah, degupan ini, bagai simfoni indah yang perlahan bergemuruh di dadaku. Berarti sebentar lagi waktunya.

Deg!

Lagi? Oke, sekali lagi dan aku tahu bahwa aku akan bisa melawan Byakuya. Kau sudah terdesak, King.

Deg!

Selamat tinggal, inner world! Byakuya, inilah saat-saat kekalahanmu!


-Normal POV-

Inner world Ichigo, saat Hichigo melawan Byakuya.

Ichigo perlahan membuka matanya, tersadar, ia berada di inner worldnya, terlentang. Laki-laki berambut oranye itu pun bangkit duduk dan menoleh. Ada Zangetsu di sana, seperti biasa, berdiri tenang, sesekali angin meniup lembut rambut lebat dan baju hitamnya.

"Kenapa kau membawaku ke sini, paman Zangetsu? Ini bukan waktu yang tepat."

"Bukan aku."

"Lalu?"

"Dirimu sendiri."

"Aku?"

"Apa yang kau inginkan tadi saat melawan Byakuya?"

"Aku ingin menang, aku ingin jauh lebih kuat."

"Karena itu kau ke sini."

"Aku masih tak mengerti."

"Kenalilah kekuatanmu sendiri, Ichigo. Kau tak hanya punya aku, tapi juga dia, yang kemarin memanggilmu partner."

"Dia?" mata hazel Ichigo membulat sempurna.

"Ya. Sekarang dia yang melawan Byakuya."

"Tidak! Aku ingin kembali!" berontak Ichigo.

"Kembalilah, itu tubuhmu."

Ichigo memejamkan matanya lagi, kali ini tidak semudah pertama kali Zangetsu membawanya kembali dari dalam inner world, ke dunianya. Ini sulit, seolah ada sesuatu yang menahan Ichigo sehingga tak bisa kembali ke tubuhnya. Ichigo berontak dan mencoba sekuat tenaga untuk merajai kembali hatinya.

"Jangan mengganggu, partner! Kita hampir menang!" sahut Hichigo.

"Diam dan kembalilah! Enyah kau!"

"Tch, kau ini membosankan."

Hichigo pun kembali ke inner world Ichigo, nyaris terlempar karena Ichigo menolak keras Hichigo untuk merajai hatinya dan menguasai pikirannya. Hichigo menghela nafas panjang, lalu melirik Zangetsu.

"Kau persis seperti dia."

"King? Jangan bodoh, Zangetsu!"

"Kau kecewa?"

"Tidak. Sudahlah, biarkan saja, nanti juga akan membutuhkanku lagi."

"Baik."

"Pulangkan aku!"

"Hichigo. Dia tahu, dia tahu kalau dirinya memiliki aku dan kau."

"Baguslah, dia kan raja kita. King," ujar Hichigo sambil menyeringai.

'Ya, Ichigo, kau adalah raja di dunia ini. Jadilah lebih kuat dan tetap percayalah pada kami.'

.

.

~O W A R I~

.

.


Read More......

Different Love

-Different Love-
Disclaimer : Bleach © Tite Kubo
Rated : T
Genre : Romance/Hurt/Comfort
Pairing(s) : IsshinMasaki
WARNING : typo(s), (sedikit) OOC, gaje, all of this story is Isshin's POV
Summary : Kau tahu, Ichigo menjadi shinigami yang begitu hebat. Masaki, ku rasa, aku jadi sangat rindu padamu...


Kau cantik...
Bagai seorang dewi...

.

.

Karakura. Di kota kecil ini aku mendapat tugas untuk meng-konshou beberapa arwah yang merepotkan. Juga aku harus membasmi hollow yang menyerang di kota ini. Yah, tugas shinigami itu memang sangat membuat repot.

Dingin. Malam ini udara dingin begitu menusuk tulangku. Hingga aku sendiri saja tak bisa menahannya. Ku rapatkan kedua tangan di depan dadaku. Kini aku berdiri menunggu seseorang di atas atap rumahnya. Ah ya, aku subtitut shinigami-yang sangat-kebetulan baru saja diangkat menjadi kapten, Isshin Kurosaki. Tadinya aku malas sekali untuk tinggal di kota kecil seperti ini, tapi sayangnya ada yang menarik perhatianku.

Cklek.

Orang yang aku tunggu akhirnya menampakkan diri. Dia. Seorang dewi dengan rambut oranye kalem baru saja keluar dari rumahnya dengan senyum mengembang di wajahnya. Namanya Masaki. Sungguh, sangat menggembirakan dapat melihat wajahnya.

"Isshin? Apa kau di situ?"

Bruk!

Aku terjatuh dari atap karena terkejut, ternyata ia dapat merasakan kehadiranku. Astaga. Ternyata dekat dengan seorang shinigami itu cukup untuk membuat instingmu bertambah kuat, ya? Aku hanya menggaruk belakang kepalaku yang tidak gatal sambil tertawa.

"Hehehe... Kau hebat, Masaki. Aku bangga!" aku mengacungkan jempol.

"Oh? Hihihi..." Masaki tertawa kecil. Kami-sama, ia manis sekali.

"Anoo... Aku..." aku kehabisan kata-kata. Seseorang, tolong aku!

"Kau mau jalan-jalan malam bersamaku?"

"Eh? Tentu saja! Dengan senang hati, Hime," aku membungkukan badan.

Masaki tersenyum lagi. Aku amat senang melihat senyumnya. Setidaknya, ia satu-satunya orang yang bisa melihatku dalam wujud shinigami saat ini. Reiatsunya memang seperti orang biasa, namun siapa sangka kalau ternyata ia begitu hebat. Ya, di mataku, ia satu-satunya orang yang menawan.

.

.

Seperti rembulan yang menyinari malam
Kau menyinari hatiku dengan senyummu

.

.

Dua tahun sudah aku memperhatikan Masaki. Kadang ia menyadari kehadiranku, kadang tidak. Tapi melihat senyumnya setiap malam, itu sudah lebih dari cukup menurutku. Melihat setiap gerak geriknya juga sangat menarik hatiku.

Malam ini, aku tak bisa menemuinya karena harus bertemu dengan seseorang. Laki-laki dengan wajah tak bersemangat, rambut pirang dengan poninya-yang menurutku-persis sungut kecoak. Ia tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu besar di Rukongai Barat. Tapi jangan salah, ia adalah shinigami yang cerdas. Kisuke Urahara.

"Jadi?"

"Saya buatkan gigai khusus untuk anda. Tak ada seorang shinigami pun yang akan menyadari kehadiran anda. Tapi..." ia seolah sengaja memotong kata-katanya.

"Apa?"

"Anda harus memakai gigai itu untuk jangka waktu yang lama."

"Maksudmu?"

"Gigai ini lama kelamaan akan merubahmu jadi seperti manusia biasa."

"Oh ya, ya, ya. Baiklah."

"Kalau anda jadi menikah, jangan lupa untuk mengundang saya, ya," Urahara berjalan memasuki sebuah ruangan.

"Aku janji takkan mengundangmu," jawabku sambil mengikuti langkah Urahara.

Akhirnya kami sampai di ruangannya. Urahara memperlihatkan gigai buatannya. Tentu saja memang seperti kopian dari diriku, sama persis. Aku memegangnya, bahannya memang seperti yang dikatakan Urahara tadi. Perlahan-lahan akan menyerap reiatsuku.

"Jadi? Anda benar-benar mau menggunakannya?"

"Ya. Aku akan menggunakannya."

"Hn? Baiklah kalau begitu."

"Arigato, Kisuke!"

Pria itu tersenyum padaku lalu menyiapkan gigai yang tergeletak di sebuah alas tidur di lantai. Aku akhirnya memasuki gigai itu, lalu mencoba menggerak-gerakannya. Rasanya agak sedikit aneh, tapi aku yakin lama-lama aku pasti akan terbiasa.

"Saya pasti akan merindukan cara pengobatan anda."

"Kau kurang ajar. Bukannya merindukanku."

Urahara tertawa renyah, lalu mengantarku keluar dari rumahnya. Ya, setelah ini sepertinya aku akan memulai hari-hariku lagi sebagai seorang manusia biasa. Kini aku bisa bebas menemui Masaki kapan pun tanpa harus sembunyi.

"Gantikan aku, Kisuke. Jadilah kapten."

"Aku? Ah, anda bercanda."

"Kau berbakat," kataku sambil menepuk bahunya.

Aku tahu ia adalah shinigami yang berbakat. Senangnya dapat memakai gigai ini, meski memang Kisuke jadi harus melanggar peraturan yang dikeluarkan oleh Soul Society, tempat yang terlalu formal dan penuh dengan aturan itu. Masaki, aku datang!

.

.

Menyentuh lembut tanganmu adalah mimpi
Mimpi indah yang menjadi kenyataan manis

.

.

Langit berwarna keemasan saat aku tengah duduk di pinggir sungai. Matahari sudah akan kembali ke singgasananya saat ini, perlahan-lahan, menentramkan. Angin bertiup lembut, seolah berbisik dalam hatiku dengan amat sangat pelan. Di sampingku duduk seorang wanita cantik yang wajahnya selalu dihiasi oleh senyuman. Ya, Masaki.

Sebenarnya kalau sedang begini, aku merasa amat grogi sekali. Aku merogoh saku celanaku, mengeluarkan benda berbentuk kotak. Kotak rokok. Dari dalamnya aku mengeluarkan sepuntung, lalu menyalakannya dengan menggunakan korek api. Tiga bulan dalam gigai ini, cukup untuk membuatku mengenal berbagai macam benda.

Aku menghisap rokok itu. Kau tahu, salah seorang temanku pernah bilang padaku kalau kau bisa menghisap sebatang rokok, kau akan tampak keren. Memang kedengarannya aneh, tapi mungkin itu perlu di coba.

"Isshin."

"Hm?"

"Kau tampak keren saat menghisap rokok."

"Eh?" aku tertegun.

Masaki tersenyum lagi, ah, gadis yang murah senyum. Aku ingat sekali, ini adalah kali pertamanya memujiku. Aku melompat gembira di dekatnya hingga tak sadar membuang puntung rokok yang ada di tanganku. Mata hazel Masaki membulat sempurna melihat tingkahku.

Aku memang tak bisa berpura-pura jaga image seperti laki-laki lain di depan orang yang aku sukai. Aku lebih suka mereka tahu apa perasaanku dan apa yang ada di dalam hatiku.

"Isshin."

"Ya, Masaki?"

"Kau bilang tadi kau mau bicara penting."

"Penting, ya. Aku tak tahu ini penting atau tidak bagimu," aku kembali duduk di dekatnya.

Dari raut wajahnya tampak kebingungan, tapi selanjutnya ia menunjukkan kalau ia ingin tahu. Perlahan aku memberanikan diri untuk memegang tangannya. Kami-sama, sungguh dadaku bergemuruh hebat, apa ada badai di dalam?

"Menikahlah denganku."

"Isshin?" ia malah menatapku bingung.

"Maukah kau menikah denganku, Masaki?"

"..." ia diam, ini saat pertama Masaki diam.

"Masaki, sungguh, kalau kau menolakku, aku takkan..."

Masaki meletakkan telunjuknya di bibirku, lalu melepaskan genggaman tanganku. Aku merasa, sepertinya memang aku harus menerima kekecewaan dalam hatiku. Namun, ternyata aku salah, Masaki memelukku dengan erat.

"Aku mau menikah denganmu," bisiknya.

Ia menerima lamaranku. Sungguh. Ia menerima lamaranku. Jika semua ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan, ini adalah kenyataan yang manis. Rasanya tak ada lagi hal yang membuatku lebih bahagia selain Masaki yang menerima lamaranku.

.

.

Kamu adalah permata yang tak ternilai harganya
Aku rela membayarnya dengan nyawaku

.

.

Empat tahun itu sepertinya waktu yang tak sebentar, kini aku dan Masaki memiliki seorang anak bernama Ichigo Kurosaki, dan dalam perut Masaki masih ada bayi lagi. Ichigo akan segera memiliki adik. Anakku Ichigo adalah anak yang cengeng dan sangat manja pada ibunya. Tapi itu juga yang membuatku ingin selalu melindungi keluargaku.

Hari ini Masaki terlihat sibuk di dapur, ia sedang memasak makan malam untukku dan Ichigo. Terlihat Ichigo membantu menata alat makan di atas meja, sementara aku sibuk menggodanya.

"I...chi...go..." aku menepuk tangan ke atas kepalaku.

"Otto-san!" Ichigo terlihat terganggu, lalu mendorongku.

"Okaa-san, lihat anakmu sangat tega kepadaku."

Masaki hanya tersenyum melihat tingkahku. Apalagi? Apalagi yang akan dilakukannya selain tersenyum. Tidak ada, bukan? Ia memang sangat senang tersenyum, bahkan aku jarang melihatnya menangis. Terakhir ku lihat ia menangis adalah saat melahirkan Ichigo empat tahun yang lalu.

Ichigo pun membantu membawakan makanan ke atas meja makan, sementara aku hanya memperhatikan anak dan istriku. Setelah selesai, Masaki meletakkan panci untuk memasaknya tadi ke dalam wastafel, sementara aku pun mendekatinya, berjongkok di dekatnya.

"Hei, kalian sedang apa di dalam?" aku mengelus perut Masaki.

"..." tak ada jawaban, namun aku merasa ada yang menendang dari dalam, Masaki meringis pelan.

"Sakit, ya? Hei, kalian ini nakal!"

"Tou-san curaaaaang! Aku mau dengar! Aku mau dengar!" Ichigo merengek sambil menarik narik bajuku.

"Hei, hei, aku belum selesai bicara pada adikmu."

"Aaaah..., aku juga mau dengaaar!" Ichigo semakin erat menarik bajuku.

"Tch. Baiklah."

Aku pun bangkit berdiri, membiarkan jagoan kecilku puas mengelus perut ibunya. Tinggi Ichigo memang tak sampai sepinggangku, namun ia sama keras kepalanya seperti aku. Masaki mengelus rambut oranye Ichigo yang mirip dengannya, lalu mengecup pipiku. Setelahnya, ia meletakkan telunjuk di bibirku, mengisyaratkan untuk tidak melompat kegirangan.

"Nah, sekarang, ayo kita makan malam," ajaknya.

"Ya!" aku dan Ichigo meninju ke udara.

Kami-sama, sungguh ini kebahagiaan yang tidak ternilai. Aku punya Masaki, Ichigo, dan sebentar lagi ada anak kembar yang akan meramaikan rumah kecil kami. Keluarga kecil kami, Kurosaki.

.

.

Kau bagai matahari, pusat segalanya
Sementara aku hanya sanggup mengelilingimu, melindungimu

.

.

Rasanya, aku ingat baru kemarin aku jadi ayah dari seorang anak. Tapi nyatanya hari ini aku telah menjadi seorang ayah dari tiga orang anak. Anak kembarku sudah lahir dua tahun yang lalu, dan kini mereka sedang lucu-lucunya. Karin Kurosaki dan Yuzu Kurosaki.

Karin mewarisi wajahku, sementara Yuzu mewarisi wajah ibunya yang kalem, untuk rambutnya yang pirang itu, kurasa karena gen campuran antara aku dan Masaki. Oke oke, bukan saatnya mempermasalahkan itu. Aku yakin Masaki tak berselingkuh dengan siapa pun sehingga kami punya anak dengan rambut pirang begitu.

Hari ini aku dan keluargaku memutuskan untuk berlibur ke pantai. Yeah, pantai! Saatnya bersenang-senang dengan air dan juga semangka. Tentu saja, tak asyik, kan, kalau di pantai kita tak bermain pukul semangka atau membuat istana pasir?

"Ya, anak-anak, sekarang kita lakukan pemanasan!" seruku sambil meninju ke udara.

Ichigo tampak menoleh malas, aku pun menggodanya dengan mencubit pipinya itu. Tentu saja Ichigo langsung naik darah dan memukul-mukul tubuhku. Sementara kedua putriku sepertinya tertarik dengan yang dilakukan kakaknya, akhirnya menghampiriku. Aku pun berlari-lari kecil karena dikejar oleh mereka.

"Anak-anak, sudah, ayo sini pakai sun block kalian."

"Okaa-san!"

Ichigo, Karin, dan Yuzu berlari menghampiri ibu mereka, aku pun berjalan menghampiri Masaki. Mereka berempat asyik memakai sun block di tubuh mereka, sementara aku hanya memperhatikan. Selanjutnya, Masaki menyodorkan sunblock kepadaku.

"Nanti kalau kau hitam, aku jadi tidak suka padamu," godanya.

"Jangan begitu," aku menangis sambil memeluknya.

"Makanya pakai ini," ia menyodorkan sunblock.

Anak-anak membantuku untuk menggosok punggungku dengan sunblock. Termasuk si oranye kecil juga ikut membantuku. Setelah itu, kami pun bermain di pantai, membuat istana pasir dengan dibantu oleh Masaki. Sesekali aku menjahili Ichigo dengan memberinya kepiting kecil atau sekedar memainkan pasir. Yuzu membentuk istana pasir bersama Masaki, sementara Karin membawa air di ember kecil.

.

.

Jika saat itu ada dendam di hatiku
Adalah di saat aku tak bisa menyelamatkanmu

.

.

Aku berkutat dengan pasien yang sedang mengalami kondisi yang gawat darurat. Entahlah, ia sedang meregang nyawa, nyaris meninggal, dan aku tahu, aku dapat menggunakan kidouku untuk menolongnya. Tapi aku telah bersumpah untuk tidak menggunakannya semenjak aku menikah dengan Masaki. lagipula, kau tahu, kan, gigai ini...

Deg!

Cih! Perasaaan apa ini? Mengapa sangat tiba-tiba sekali? Hollow. Aku tahu itu hollow. Tapi di saat yang sama, aku juga merasakan reiatsu Ichigo dan Masaki yang tak jauh dari hollow itu. Kami-sama, apa yang akan terjadi pada istri dan anak sulungku? Kini di hadapanku ada seorang pasien yang harus ku tolong, tapi di saat yang sama pula, aku harus menolong anak dan istriku, mana yang harus ku tolong? Orang ini...

Deg! Deg! Deg!

Oh ya, tentu saja. Aku tahu kalau saatnya semakin dekat. Maafkan aku, Masaki. Sungguh, maafkan aku. Grand Fisher, ya, hollow yang ada di dekat istriku itu bukan hollow sembarangan yang mudah dimusnahkan. Aku bisa memusnahkannya dengan mudah, tapi kenapa? Aku mulai bekerja dengan peralatan sederhana di klinikku. Operasi kecil untuk menyelamatkan pemuda yang ada di hadapanku. Aku tak mengenalnya, tapi aku punya kewajiban untuk menyelamatkannya, karena aku seorang dokter.

Deg!

Masaki...

.

.

Ya, jika saat itu memang ada penyesalan
Bukan saat ini, tapi saat aku tak bisa menyelamatkanmu

.

.

Aku berdiri di depan makam Masaki sambil memegang payung dan menghisap sepuntung rokok. Hari ini hujan. 17 Juni lainnya yang harus ku hadapi dengan kepedihan yang dalam, sangat dalam di hatiku. Kini di sampingku berdiri seorang pemuda berambut oranye, usianya baru lima belas tahun, namun ia nampak berbeda. Berbeda dari beberapa tahun yang lalu, Masaki. Aku tahu ia bukan lagi anak cengeng yang akan meminta perlindungan ibunya. Ia keras seperti aku, tapi aku tak mirip dengannya! Ichigo Kurosaki.

"Kenapa?"

"Apa?"

"Kenapa tak ada yang menyalahkanku atas kematian Okaa-san? Kenapa?"

"..." aku mendengarkan tiap kata yang keluar dari si sulung.

"Waktu Okaa-san meninggal, juga sekarang pun, aku tak bisa apa-apa. Padahal bisa lebih lega kalau mau menyalahkanku! Kenapa?"

"Kenapa harus menyalahkanmu?" jawabku dengan wajah polos, berusaha menghiburnya.

"Ha?" Ichigo menatapku tak kalah polos.

"Kalau menyalahkanmu atas kematian Masaki, aku bisa dimarahi Masaki."

"..." sekarang gantian Ichigo yang diam.

"Bukan salah siapa-siapa kalau Masaki meninggal. Hanya saja, perempuan yang kucintai itu perempuan yang meninggal karena melindungi anaknya," lanjutku sambil tersenyum.

Ichigo memandangku dengan tatapan bingung. Kau tahu, hazelnya itu persis seperti milik ibunya, tenang, namun ada suatu beban yang tak ingin ia bagi pada siapa pun.

"Janagan lupa, Ichigo, kamu laki-laki yang dilindungi dengan taruhan nyawa... Oleh perempuan yang kucintai."

"Otto..."

Aku sebal melihat wajahnya yang sedih itu, aku tersenyum pun ia tak bergeming. Benar-benar anak yang sok keren! Aku pun melayangkan tendangan ke pinggang kirinya, agar ia bisa menunjukkan wajah sebalnya padaku.

"Ah, bikin kesal saja, kau!" tendanganku tepat mengenai pinggangnya.

Ya, ia pun menunjukkan wajah sebalnya padaku, sambil memegang pinggangnya yang kesakitan. Aku berbalik sambil menghisap puntung rokok di tanganku lagi. Berjalan meninggalkannya di dekat makam ibunya, aku tahu ada reiatsu lain, itu milik shinigami, mungkin teman Ichigo.

"Hiduplah sekuat tenaga, Ichigo. Hidup dan jadi tua sekuat tenaga. Jadi botak sekuat tenaga, dan mati setelah aku."

"..." tak ada jawaban.

"Lalu, kalau bisa, matilah dengan tersenyum. Kalau tidak, aku tidak punya muka untuk bertemu Masaki."

"..." tetap tak ada jawaban.

"Jangan menanggung sesuatu yang keren seperti kesedihan. Kamu masih terlalu muda."

Aku tak tahu apa yang ada di dalam pikiran Ichigo, aku juga tak tahu siapa shinigami yang datang dan dekat dengan Ichigo. Mungkin shinigami itu tinggal di rumahku, karena setiap hari aku merasakan reiatsunya. Siapa dia? Aku benar-benar tak tahu.

.

.

Aku shinigami, kau manusia
Jalan kita berbeda, namun cintalah yang menyatukan kita...

.

.

Masaki, anak kita shinigami, Ichigo Kurosaki, ia sama sepertiku, Masaki. Apa kau marah padaku karena ternyata selama ini aku membesarkan shinigami? Tolong jangan marah padaku. Marahi saja Kisuke Urahara yang membuatnya menjadi shinigami yang begitu hebat. Masaki, ku rasa, aku jadi sangat rindu padamu...

.

.

~ O W A R I ~

.

.

Read More......

Sweet Poison

-Sweet Poison-
Disclaimer : Bleach © Tite Kubo
Rated : T
Genre : Poetry/Romance
Pairing(s) : GinMatsu
WARNING : (sedikit) OOC, gaje, mellow total, oneshoot, all of this story is Rangiku's POV
Summary :
Gin, sampai kapan pun hatiku hanya untukmu, sampai kapan pun aku akan selalu menunggumu. Meski nanti kita harus mati bersama, atau mungkin aku yang kan mati di tanganmu


Gin

Ichimaru Gin

Nama itu nama yang aneh bagiku

Nama seseorang yang menolongku

Nama seseorang yang paling perduli padaku

Waktu itu…

Saat itu…

.

.

Kau yang paling mengenalku

Kau yang paling tahu tentang aku

Kau yang menyadarkanku bahwa aku tak sendiri

Kau yang memberi tahu kalau aku punya kekuatan

Kau yang memberi tahu kalau setiap orang butuh hari lahir

Agar kita selalu diingat

Agar kita dapat merasa istimewa

.

.

Gin

Senyum darimu

Setiap gerak gerikmu

Seolah menjadi racun bagiku

Racun yang membuatku tak bisa lepas darimu

Meski saat itu kau pergi

Meski saat itu kau tak pernah memberi alasan

.

.

Kecewa karena aku tak bisa menahanmu lebih lama

Maaf

Maaf? Maafku tak pernah hilang untukmu, Gin

Selalu kau yang ada dipikiranku.

Ironis memang

Aku begitu naïf, sangat naif

Kata-kata itu terpatri kuat dalam ingatanku

Bagai belati yang perlahan-lahan merobek hatiku

.

.

Gin

Apakah pernah sekali kau perduli padaku?

Apa pernah sekali saja terbesit wajahku di pikiranmu?

Aku ingin tahu Gin

Siapakah aku bagimu?

Sampah?

Teman?

Atau hanya pengganggu yang kau manfaatkan?

.

.

Pernahkah kau merasakan apa yang aku rasakan?

Sakit ketika kau tinggalkan

Berhari-hari aku harus terpuruk menunggumu

Berharap agar kau kembali

Berharap kau memperlihatkan senyummu lagi padaku

Berharap aka nada keajaiban yang membuatmu sadar

Kalau kekuatan bukanlah segalanya

Kalau Aizen salah

.

.

Gin

Aku tahu selama ini aku salah berharap

Harapan kosong yang mudah ditiup angin

Aku tak punya kekuatan apa-apa untuk mewujudkannya

Bahkan aku sendiri tak mampu menahanmu

Hanya mampu melihatmu puas bertarung

Puas melihat warna darah

Darah orang-orang yang pernah mempercayaimu

Darah orang-orang yang pernah kau hormati

Semua itu bagai manisan yang tak penting untukmu, kan?

.

.

Satu penjelasan mungkin takkan cukup bagiku

Begitu pun dengan dua tiga menit kau bersamaku

Atau empat lima langkah kau di dekatku

Meskipun ada tujuh delapan alasan mengapa aku menunggumu

Sembilan sepuluh detik kemudian kau pasti akan menghabisiku

Wajah sendumu

Ku pikir saat itu kau mengkhawatirkanku

Tapi ternyata aku salah

Kau menyerangku kan?

Atas dasar kesetiaanmu pada Aizen

.

.

Gin

Untuk terakhir kalinya

Ketahuilah

Kau adalah racun yang perlahan membunuhku dengan sikapmu

Tapi…

Sampai kapan pun hatiku hanya untukmu

Sampai kapan pun aku akan selalu menunggumu

Meski nanti kita harus mati bersama

Atau mungkin aku yang kan mati di tanganmu

Aku rela, Gin

.

.

~ O W A R I ~

.

.

Read More......

Daidai

-Daidai-
Disclaimer : Bleach © Tite Kubo
Rated : T
Genre : Romance/Hurt/Comfort
Pairing(s) : IchiHichi
WARNING : typo(s), (amat sangat) OOC, gaje, shounen-ai
Summary : Kau hitam, aku putih. Kita sangat bertolak belakang. Namun karena itulah aku jadi jatuh cinta padamu dan menjadikanmu raja dihatiku, Ichigo. Jangan mati...


~Daidai by Chatmonchy~

Nanimo te ni tsukanai... shirokuro no hitomi de ...
Watashiwa tada hitasura ...
There is nothing I can do for you
Ano toki no watashiwa nani ni kandoushite nani ni manzokushite
Jibun wo rikaishitteitano?

[I just can't seem to concentrate... with these black and white eye...
I was just...
There is nothing I can do for you
Back then I was really moved by something, really content with something
Did I really understand myself?]

.

-Ichigo's POV-

Lagi, mataku tak bisa melihat musuhku di depan. Terhuyung. Aku melawan Grimmjow Jeagerjaques dengan terhuyung, kehilangan konsentrasiku. Aku tak tahu lagi bagaimana nasibku selanjutnya. Apakah nanti aku akan mati di tangannya? Ataukah aku akan hidup dan akan bisa melawannya? Aku tak tahu.

Tebasan demi tebasan menembus kulitku. Darah mengucur deras melewati pori-poriku dan perlahan menetes. Merah dan kental. Cih! Sakit!

Maaf teman-teman. Maaf, Inoue. Maaf. Aku tak bisa melindungi kalian. Aku lemah.

Deg!

Rasa itu lagi. Desiran aneh yang perlahan-lahan mulai mengganggu di pikiranku, dadaku berdebar. Dia. Sebentar lagi dia akan keluar karena aku tak lagi berguna. Hichigo Shirosaki... Tak bisakah kau percaya padaku sedikit lebih lama? Tidakkah kau pikir aku mengenal kekuatanku sendiri? Aku sendiri justru tak yakin.

'King...'

Bisikan itu. Ya. Itu hanya miliknya. Bisikan dari dalam hatiku yang memanggilku dengan suara khasnya. Kasar, namun selalu membuatku berdebar aneh. Semakin lama, bukannya semakin terbiasa, aku malah semakin berdebar ketika mendengar suaranya.

'Jangan mati...'

Suara itu memintaku untuk tetap bertahan walau luka-luka di sekujur tubuhku rasanya semakin sakit. Tapi setelah mendengar suara itu, aku jadi bisa tersenyum menyeringai. Membuat Grimmjow sedikit terkejut melihat seringaiku. Selanjutnya, kesadaranku nyaris hilang.

.

Dokonimo ikanaide
Please don't go anywhere

[Please don't go anywhere
Please don't go anywhere]

.

'Jangan kemana-mana, King.'

Aku mendengar suara itu semakin lama semakin jelas, dan aku semakin terbawa ke dalam inner worldku, jauh ke dalam relung hatiku. Aku seperti percaya kepada suara itu jauh semakin dalam. Hichigo...

"Aku percaya padamu."

'Kalau begitu, bagus, King.'

"Gunakan tubuhku baik-baik."

'King, kau jangan ke mana-mana.'

"Kenapa?"

'Kalau kau mati, aku takkan ada gunanya.'

Aku melihat semburat merah di wajahnya saat akan beralih menguasai kesadaranku. Aku yakin itu adalah tanda kalau ia tersipu. Astaga, Hichigo, aku tak tahu kalau kau mengkhawatirkanku. Selanjutnya, aku benar-benar kehilangan kesadaranku.

-End Ichigo's POV-

.

Ichi nen mae ni modoritai nante
Nande imasara omoeru kana
Ano koro no watashiwa kinou to onaji
kyou nante
Kangaenakatta

[Why am I thinking something so stupid now as
That I wish I could go back one year
Back then, just like yesterday, I just
couldn't
Think about today]

.

-Hichigo's POV-

King bodoh. Sesungguhnya aku sama sekali tak ingin jauh darimu, King. Aku ingin selalu bersamamu, agar kita dapat memandang langit di dunia dalam hatimu bersama. Kita hanya bisa bersama di inner worldmu, Ichigo.

Cih! Tidakkah kau ingat? Kau hitam, aku putih. Kita sangat bertolak belakang. Namun karena itulah aku jadi jatuh cinta padamu dan menjadikanmu raja dihatiku, Ichigo. Jangan mati... Aku akan menyelamatkanmu sebelum kau mati.

Jrash!

Lihatlah, Ichigo! King! Lihat! Aku berhasil menebas lawanmu. Aku berhasil menebas si kucing biru ini. Grimmjow. Zangetsumu bisa merobek kulitnya dan membuatnya babak belur. Kecepatan kita tak terkira, tak bisa terkejar olehnya hingga hanya tusukan dan goresan Zangetsu yang bisa ia rasakan. King! Ichigo! Apa kau senang?

Bodoh. Sangat bodoh. Saat aku menikmati pertarungan seperti ini mengapa kenangan-kenangan kita perlahan muncul? Ingatkah kau saat pertama kali kita bertemu di inner worldmu? Saat itu kau ingin sekali mengalahkan Kenpachi Zaraki. Saat itu kau masih sangat polos dan berkeinginan untuk menang dan jauh lebih kuat. Tidakkah kau tahu kalau aku jatuh cinta padamu sejak saat itu?

Srat.

Sakit. Aku lengah, King. Aku merasakan sakit yang amat dalam. Aku melukai tubuhmu, King. Apa kau marah padaku? Apa kau dapat mendengar suaraku? Maafkan aku... Aku melukaimu...

'Lanjutkan, Hichigo.'

"King? Kau tidak marah?"

'Bodoh! Siapa yang tega marah padamu?'

Aku menyeringai kecil, membayangkan hazelnya yang hangat tengah menatapku saja itu sudah cukup. Astaga. Aku harus mengalahkan Grimmjow untuk dapat bertemu dengan Ichigo! Ya! Harus! Namun...

Jrash!

Nnoitra Jiruga. Kau tahu, espada nomor lima itu menghancurkan tubuh si biru Grimmjow. Cih! Sial! Apa-apaan dia? Mengambil mangsaku begitu saja?

'Cukup, Hichigo. Kau sudah berusaha.'

"King. Aku belum mengalahkannya."

'Jangan terluka, Hichigo! Jangan maju!'

Dan aku pun seperti terkena serangan bertubi-tubi, memejamkan mataku. Kembali ke inner worldmu, King.

.

Mou koreijyou ikanaide
Please don't go anymore

[Please don't go anymore
Please don't go anymore]

.

Ya, kali ini tak ada si tua Zangetsu karena aku menginvasi tubuhmu. Ya, King. Hanya kita berdua. Ehn, maaf? Hanya kita berdua?

"Kau kembali, Hichigo," sambutan pelukan hangat dari dia. Ichigo.

"..." aku hanya memeluknya balik sambil tersenyum kecil.

"Kau tak apa?"

"Kau meragukanku, King?"

"Ichigo. Panggil namaku, Hichigo."

"Ichigo."

"Lagi. Agar aku yakin kalau kau... Hmph..."

Kecupan itu mendarat di bibirnya, aku juga merasakannya. Hangat. Aku melembutkan kecupan itu agar Ichigo merasa nyaman saat ini. Saat bibir kami saling bertemu. Hanya sebentar, namun itu manis.

"Jangan pergi lagi, Ichigo. Temani aku."

-End Hichigo's POV-

.

Me wo tsuburu to arukenaito wakatteitanoni
Hitori tsubutteta
Me wo sorasu to tsudzumenai to wakatteitanoni
Hitori sorashiteta

[Even though I can't keep walking with my eyes closed
Alone, I close my eyes
Even though I know I can't keep going if I avert my eyes
Alone, I avert my eyes]

.

-Ichigo's POV-

"Hichigo..." aku menatap mata hitam putihnya dengan sendu.

Ia memintaku untuk tidak pergi. Ia memintaku untuk menemaninya. Hichigo. Apa kau sebegitu kesepiannya? Aku pun membawanya lagi masuk ke dalam hangat pelukanku. Membelai rambut putihnya dengan lembut, dan ia pun balik memelukku. Kami begitu dekat hingga aku dapat merasakan harum tubuhnya.

"Aku takut jika kau pergi, aku akan berpaling darimu," katanya pilu.

"Jangan pernah berpaling dariku."

Ia menyeringai, aku yakin kalau ia menyeringai. Selanjutnya, ia melepas pelukanku, lalu membimbingku untuk merebahkan tubuhku di atas bangunan-bangunan inner worldku. Ia pun ikut berbaring di sampingku dengan kedua tangannya sebagai alas untuk kepalanya.

"Kau sering melakukan ini?" tanyaku.

"Ya."

"Dengan Paman Zangetsu?"

"Hei, kau cemburu pada si tua itu?" ia menyeringai lagi.

"Kau bilang, kau akan berpaling."

Aku menolehkan kepalaku. Lagi, mata kami saling bertatapan. Hazelku bertemu dengan bola mata hitam-putihnya. Ia tersenyum menyeringai, lalu kembali menatap langit lagi.

"Berpaling darimu sama seperti berjalan sambil menutup mataku."

"H-Hi-Hichigo?"

"Takkan terlihat apa-apa, kan? Itulah mengapa aku takkan berpaling darimu."

"Bersumpahlah."

"Aku bersumpah, walau harus sendirian selamanya, aku takkan berpaling darimu."

Deg!

Ya, aku senang mendengarnya. Amat senang. Bahkan mungkin jika bisa, aku ingin selalu ada di sampingnya. Seperti ini. Seperti saat ini. Ia tak akan pernah berpaling dariku. Tak akan pernah. Ia selamanya akan ada di hatiku. Hichigo...

"Arigato. Selama ini kau selalu menolongku."

"Kau naif, Ichigo! Sejak awal kau naif."

"Naif?" aku menambah kerutan di dahiku.

"Ya. Kau tahu, meskipun aku memaksakan diri untuk berpaling darimu, aku takkan bisa."

"Kenapa?"

"Aku sendirian, Ichigo. Aku selalu terlupakan. Hanya kau yang bisa membuatku hidup dan membutuhkanku."

Aku tersenyum kecil mendengarnya, dan aku yakin kalau kali ini wajahku sudah memerah. Aku merasakan panas yang menjalari wajahku. Ada juga desiran aneh yang bergejolak nakal di dadaku. Rasanya aku ingin sekali melompat ke pelukannya, Hichigo...

-End Ichigo's POV-

.

Itsunomanika anata wo kizutuke
Omoigakenai kotoba wo hasshiteita
Amaenuki kizu tsukenuita watashiwa
Kondo wa nani wo motomerukana

[Before I could realize it I had hurt you
Running from unexpected words
Refusing to rely on someone's kindness
I hurt you completely;
What am I supposed to seek from now on?]

.

-Hichigo's POV-

Hari ini di hatimu langit berwarna biru, indah. Awan-awan berarakan melewati langit di hatimu. Aku sangat menyukainya, dan juga sangat membenci hujan sama seperti Zangetsu. Aku memang bagian dari si tua itu, tapi aku tak ingin sama seperti Zangetsu seutuhnya.

"Gomen," kata-kata itu meluncur dari bibirku.

"Untuk?"

"Aku selalu saja melukai tubuhmu."

"Sedikit. Aku lebih banyak melukai tubuhku sendiri."

"Sedikit? Sedikit luka itu melukaimu, King."

"Ichigo," ia menyebutkan namanya.

"Ya, Ichigo."

"Kau selalu menyelamatkan nyawaku. Itu saja sudah cukup."

Aku tersipu mendengarnya, bingung bagaimana dengan ekspresiku saat ini. Namun tak lama aku merasakan tangan hangatnya yang menggenggam tanganku dengan erat. Aku menggenggamnya balik, ada sedikit rasa bersalah di dalam hatiku.

Aku mengeratkan pegangan tanganku sambil mengalihkan pandanganku padanya lagi. Kali ini ia serius menatap langit, namun ada semburat merah di wajahnya. Itu menambah rasa bersalah di hatiku karena melukai tubuhnya. Selanjutnya, ternyata ia memalingkan wajahnya juga, memandangku.

"Hei, jangan memandangku seperti itu," katanya.

"Kenapa?" jawabku agak ketus.

"Huh! Tak bisakah kau sembunyikan wajah bersalah itu dariku?"

"Memangnya kau bisa?" tanyaku balik.

"Kau..., hhh... sudahlah."

"Aku tak bisa menyembunyikan apapun darimu."

"Kenapa?"

"Untuk apa?"

Ia tak bisa menjawab balik pertanyaanku. Tentu saja. Untuk apa aku menyembunyikan sesuatu darinya? Semuanya ia tahu, kan? Karena ia adalah raja di hatiku. Ya. Alasan lain? Karena aku selalu menyakitinya. Aku tak tega menyembunyikan diriku sendiri di hadapannya karena membuatnya terluka. Untuk apa? Kalau ia kesal, ia bisa membunuh atau mengabaikanku, kan? Nyatanya ia juga mencintaiku.

"Kau tak pernah menyakitiku. Jangan pernah menyembunyikan sesuatu dariku," katanya sambil memegang daguku.

"I-Ichigo?"

"Aishiteru," katanya sambil mengecup dahiku.

.

Dokonimo ikanaide
Please don't go anywhere
Mou koreijyou ikanaide
Please don't go anymore

[Please don't go anywhere
Please don't go anywhere
Please don't go anymore
Please don't go anymore]

.

"Aishiteru yo," jawabku sambil tersenyum kecil.

Ia bangkit dari posisinya, lalu meregangkan badannya sebentar. Selanjutnya, ia tersenyum lagi padaku. Satu hal yang paling ku suka adalah senyumnya yang hanya untukku. Namun itu tandanya ia harus pergi.

"Nah, sudah ya, Hichigo!" pamitnya.

"Kau... tidak bisa tinggal sebentar lagi?" tanyaku sambil menggigit bibir bawahku.

"Ng, sebenarnya aku ingin," jawabnya.

"Kalau begitu tinggallah," pintaku.

"Aku kan harus menolong teman-temanku."

Teman-temannya. Selalu saja ia menggunakan alasan itu. Ia ingin jadi kuat karena teman-temannya. Ia ingin menolong semua temannya. Ia selalu saja beralasan kalau ia ada untuk melindungi teman-temannya. Tidakkah ia merasakan perasaanku yang kesepian?

-End Hichigo's POV-

.

Mou kore ijyou arukenai
Mou kore ijyou arukenai
Mou kore ijyou arukenai watashiwa

[I just can't keep walking
I just can't keep walking
I just can't keep walking, I can't]

.

-Ichigo's POV-

"Huh! Kau membuatku jadi enggan pergi," gerutuku sambil mengusap rambut putihnya lembut.

Ya, aku jadi enggan pergi melihat wajahnya yang sendu ketika melihatku akan pergi. Seolah ada beban berat di kakiku yang menahan aku agar tidak pergi. Aku jadi malas berjalan pergi kembali ke duniaku.

"Kalau begitu jangan pergi," pintanya lagi.

"Aku harus menolong teman-temanku."

"Tidakkah kau pikirkan perasaanku?"

"Hatiku hanya untukmu, Hichigo."

"Selalu dengan kata-kata. Sikapmu tak menunjukkan itu, King," ia kembali tidak memanggil namaku, membuat dadaku sakit.

"Ichigo."

"Aku takkan memanggil namamu kecuali kalau kau berjanji takkan pergi."

"Aku akan kembali."

"King..."

"Aku janji pasti akan kembali. Jadikan aku lebih kuat, selamatkan aku saat dalam bahaya."

"Kau selalu tak adil padaku."

"Aku hidup di banyak dunia. Karakura, Soul Society, dan..."

"Bahkan inner worldmu tak masuk urutan pertama dalam hidupmu."

"Kau selalu jadi yang pertama, karena kau adalah yang terhebat yang pernah ku punya. Aishiteru, Hichigo."

"Kau gombal, Ichigo," ia tersenyum menyeringai, "Aishiteru yo."

Aku tersenyum padanya, lalu memeluknya untuk terakhir kalinya sebelum kembali pergi ke duniaku. Rasanya berat, dan aku pasti akan merindukannya, selalu merindukannya. Tapi, sudahlah. Toh, nanti aku pasti akan membutuhkannya. Cinta... Ini aneh. Tapi sungguh aku sangat menyukainya. Hichigo Shirosaki.

-End Ichigo's POV-

.

.

~O W A R I~

.

.

Read More......

Senpai Phobia

-Senpai Phobia-
Disclaimer : Bleach © Tite Kubo
Rated : T
Genre : Friendship/Romance
Pairing(s) : HisaHina
WARNING : typo(s), (sedikit) OOC, modified canon, gaje, all of this story is Hinamori's POV
Summary : Aku punya phobia sendiri ketika berhadapan dengan senpai, karena itu aku tak ingin berurusan dengan senpai manapun. Tapi, dia berbeda, Hisagi-senpai...


Namaku Hinamori Momo, salah satu murid dari sekolah khusus shinigami yang-sepertinya-biasa saja dan tidak mencolok. Tentu saja, karena saat latihan pedang, ada Abarai-kun yang amat lincah memainkan pedang kayunya. Kalau urusan kidou, Kira-kun yang sangat ahli. Jadi, aku dapat tergolong murid yang 'biasa saja', kan?

Aku sangat tidak ingin menjadi murid yang mencolok karena takut dengan yang namanya 'senpai'. Heh? Lucu kah? Mungkin. Karena aku punya phobia sendiri dengan yang namanya senpai. Padahal tak ada apa-apa kok, aku sama sekali belum pernah punya masalah dengan senpai. Hanya saja, itu ketakutanku sendiri, namanya juga phobia.

Jadi, saat istirahat, aku lebih suka duduk di bawah pohon, jauh di belakang sekolah, menikmati makan siangku. Atau mungkin bersembunyi di suatu tempat, menjauhi keramaian, yang penting aku jauh dari kakak kelas. Seperti siang ini, aku duduk di bawah pohon sambil menikmati bekal makan siangku. Namun sepertinya kali ini aku tak sendiri, karena ada suara yang mengejutkanku.

Srak.

Semakin lama suara itu semakin dekat dan aku pun berdiri, bersiap bila seseorang akan menyerangku. Namun, ternyata aku salah, itu...

"Hisagi-senpai?"

"Hn?" Hisagi-senpai menatapku bingung.

Tentu saja, semua orang tahu tentang Hisagi-senpai. Dengan ciri tato 69 di pipinya, ia adalah satu dari sedikit murid terpilih yang dipastikan akan mendapati posisi tinggi di Gotei 13. Maksudku, mungkin ia akan ditempatkan di kursi ke 3, ataupun lebih tinggi dari itu, wakil kapten, mungkin?

Aku langsung ambil langkah seribu, menjauhi Hisagi-senpai. Betapa bodohnya aku sempat memanggil namanya. Tentu saja ia dengan cepat menyadari adanya aku dan langsung memanggilku.

"Hei! Kau!"

Aku tak perduli, aku terus berlari menjauhi Hisagi-senpai. Rasanya ketakutan langsung menyergapku dan aku jadi berlari tanpa arah. Pikirku, yang penting aku jauh dari Hisagi-senpai, yang penting aku takkan berurusan dengannya. Hingga...

Bruk!

Aku menabrak seseorang. Kira-kun yang sedang berlatih dengan pedang kayunya. Sama seperti Hisagi-senpai, ia menatapku bingung, lalu mengulurkan tangannya.

"Ada apa, Hinamori-kun?"

"Kira-kun."

"Ng, kau baik-baik saja?"

"Ya. Permisi."

Aku pergi lagi, tapi kali ini tak berlari, aku ingin menjauh dari tempat itu. Sampai aku lupa kalau aku meninggalkan bekal makan siangku di bawah pohon tadi. Sebenarnya aku sangat menyesal melakukan banyak kesalahan. Pertama, saat sadar ada orang, aku bukannya berlari, malah bersiap jika ia menyerangku. Kedua, saat aku tahu itu Hisagi-senpai, aku malah memanggilnya dan bukan langsung kabur. Terakhir, aku meninggalkan bekal makan siangku, dan tentu saja, aku kelaparan. Kami-sama, betapa bodohnya aku.


Keesokan harinya, saat aku sedang berlatih dengan pedang kayuku saat istirahat siang. Tentu saja, di tempat yang kemarin lagi, dan aku berjanji, apabila aku merasakan reiatsu yang tidak ku kenal, sekecil apapun, aku akan berlari. Ku ayunkan pedang kayu itu, ke kiri, ke kanan, sampai keringat perlahan mengalir dari dahiku.

"Bukan seperti itu," suara seseorang yang sepertinya ku kenal, aku pun menoleh.

"Hi-Hi-Hisagi-senpai?"

"Hei, kenapa kemarin kau berlari?"

"A-a-aku..."

"Kau salah mengayunkan pedang, kalau kau sudah menggunakan zanpakutomu, kau akan melukai dirimu sendiri," sepertinya ia tak memperdulikanku yang tergagap.

"Ng..."

"Tak terpengaruh dengan reiatsuku, kan?"

"Mm..." aku mengangguk.

"Bagus, berarti aku berhasil menyembunyikan reiatsuku."

'Pantas saja,' aku menggerutu dalam hati.

"Siapa namamu?"

"Hinamori, Hinamori Momo."

"Yah, kau pasti sudah tahu namaku. Hisagi Shuhei."

"Ya," aku menunduk.

Ia malah tersenyum lebar sambil mengambil pedang kayu dari tanganku. Selanjutnya, Hisagi-senpai mengajariku cara memegang pedang dan mengayunkannya dengan benar. Kami-sama, aku punya phobia sendiri ketika berhadapan dengan senpai, karena itu aku tak ingin berurusan dengan senpai manapun. Tapi, kenapa dengan dia berbeda? Hisagi-senpai...

"Kau sudah mengerti?" tanyanya.

"Ya, senpai."

"Hei, bicaralah sedikit lebih panjang. Kau kaku sekali!" omelnya.

"Ah eh, iya, arigato gozaimasu. Terima kasih karena sudah mengajarkanku," aku membungkukan badanku.

"Begitu. Sudah ya!" ia pun pergi.

Hisagi-senpai. Ternyata ia tidak seseram kelihatannya. Ia baik. Aku mulai terbiasa mulai hari itu. Aku tak begitu takut lagi dengan senpai, namun tetap saja aku menjaga jarak dengan para senpai. Phobiaku tak mungkin begitu saja hilang, kan?


Beberapa bulan kemudian, sekolah kami kedatangan taichou dan fukutaichou dari Gotei 13. Aku yang saat itu baru pertama kali melihat yang namanya taichou pun akhirnya ikut penasaran. Sambil menyelap nyelip di antara murid-murid lain yang sedang menyambut kedatangan taichou itu, aku akhirnya sampai di depan barisan.

Keren sekali. Taichou itu sangat gagah dan berkharisma. Rambutnya pendek, warnanya coklat, kacamata membingkai mata coklatnya yang tenang namun jadi membuatnya terlihat cerdas. Tiba-tiba saja keinginan itu muncul, aku ingin sekali menjadi fukutaichou-nya suatu saat nanti. Menggantikan fukutaichou di belakangnya yang berwajah seperti rubah.

Tercengang. Itu responku saat melihat taichou yang berkunkung ke sekolah shinigami. Mulai saat itu, aku pun mulai meningkatkan semua prestasi belajarku. Memperdalam kidou, agar dapat menandingi Kira-kun, meski tetap saja aku tak lebih hebat dari Abarai-kun saat berlatih pedang. Seolah phobiaku hilang, seolah aku tak takut jadi anak yang menonjol. Tapi, tetap saja aku tak ingin berurusan dengan kakak kelas.

Namun, sepertinya takdir berkata lain. Saatnya bagi kelas kami untuk praktek konshou ke dunia nyata. Tentu saja saat itu berarti ada senpai dari tingkat enam, dan sialnya, salah satunya adalah Hisagi-senpai.

"Aku Hisagi dari tingkat enam. Dan dibelakangku, yang kecil itu Kanisawa dan yang besar itu Aoga. Kami bertiga akan jadi pembimbing kalian hari ini," ujar Hisagi-senpai memperkenalkan diri.

Selanjutnya, murid-murid kelasku terdengar agak ribut namun dengan cepat dapat ditenangkan oleh Hisagi-senpai dengan suara tugasnya. Lalu, kami pun dibagi beberapa kelompok berdasarkan kertas undian yang tadi ditarik di kelas. Aku pun mencari pasangan kelompokku, yang ternyata adalah Kira-kun dan Abarai-kun.

"Kita berangkat! Kalian semua punya kupu-kupu neraka, kan?" komando Hisagi-senpai terdengar lagi.


Gacrak gacrak gacrak.

Terdengar suara dari pedang Kira-kun yang dikeluar masukkan olehnya. Tentu saja langsung disambut pukulan dari Abarai-kun yang kesal dengan sikap Kira-kun yang gelisah seperti itu.

"Hen-hentikan, Abarai-kun! Kira-kun!" leraiku kesal.

Ternyata konshou itu cukup mudah untuk murid seperti kami. Ya, meskipun aku murid yang 'biasa saja', tapi kelasku ini, 1-1, berisi murid-murid yang istimewa. Hanya meng-konshou 2 konpaku itu bukanlah hal yang merepotkan.

"Oke! Berkumpul! Setelah ini, kelasnya..." suara Hisagi-senpai mengejutkanku.

Aku, Kira-kun dan Abarai-kun berkumpul ke dekat Hisagi-senpai. Namun...

Jrash!

"Hisagi-kun! Akh!"

Kanisawa-senpai terbunuh setelah di tusuk oleh seekor hollow besar berwajah seram. Aku dan murid-murid lain merespon sama. Kami semua hanya bisa mematung dan keringat dingin karena begitu ketakutan. Ada juga beberapa yang menjerit ketakutan dan shock karena salah satu senpai pembimbing kami terbunuh.

"Apa-apaan? Apa-apaan itu?" seru Abarai-kun tertegun.

Hollow itu mementalkan tubuh Kanisawa-senpai ke sembarang arah setelah berhasil membunuh Kanisawa-senpai dengan tangan kanannya yang besar dan tajam seperti dua tanduk. Selanjutnya, karena berniat membalas dendam, Aoga-senpai menjadi korban selanjutnya. Hollow itu membunuh Aoga-senpai sama seperti membunuh Kanisawa-senpai, menusuk dengan tangan kanannya.

"Mundur! Lari, anak-anak tingkat satu! Secepat dan sejauh mungkin!" perintah Hisagi-senpai.

Aku ikut berlari seperti murid lain, namun setelahnya aku berpikir, kenapa aku lari? Hisagi-senpai pernah membantu mengajariku cara memegang dan mengayunkan pedang dengan benar, apa sekarang aku tak dapat membalasnya? Apa aku benar-benar harus lari dan tak menolongnya?

Akhirnya, aku pun berlari balik untuk menolongnya, walaupun Kira-kun dan Abarai-kun berteriak memanggil dan melarangku, namun aku tak perduli. Aku harus menolong Hisagi-senpai. Phobiaku yang takut berurusan dengan senpai hilang begitu saja melihat Hisagi-senpai ada dalam bahaya. Ia dikelilingi dua hollow raksasa, dan tentu saja Hisagi-senpai pasti tak bisa menanganinya sendirian.

Trak trak trak.

Suara pedangku, Kira-kun, dan Abarai-kun yang menahan serangan dari hollow untuk Hisagi-senpai. Untung sempat. Untung tidak melukai Hisagi-senpai. Untung saja tepat waktu.

"Kalian?" Hisagi-senpai merespon tekejut.

"Maafkan kami! Kami membantah perintah!" seru Kira-kun.

"Kami datang untuk menolong, jadi tolong toleransi sikap kami, senpai!" jelas Abarai-kun.

"Wahai pengendali! Wahai penguasa topeng darah, alam semesta, kepak sayap yang memberi nama pada manusia! Api membara dan kekacauan, belah gelombang laut dan teruskan langkahmu menuju selatan! Hadou ke-31! Shakkahou*!" aku mengucapkan mantra kidou sebisaku.

Percuma. Sama sekali tak mempan pada hollow itu dan hollow lain malah berdatangan karena merasakan reiatsu kami. Ku toleh Hisagi-senpai, bagian kepala kanannya sudah dipenuhi oleh darah, bahkan mungkin membuatnya sulit melihat.

Aku sungguh takut. Mungkin sama dengan yang dirasakan Kira-kun, Abarai-kun, dan tentu saja, Hisagi-senpai. Kami tak ingin mati sia-sia seperti Kanisawa-senpai dan Aoga-senpai. Apalagi para hollow itu semakin mendekat, dan...

Krak!

Serangan dari jauh memusnahkan hollow itu. Aku memberanikan diri untuk menoleh, dan itu adalah taichou yang waktu itu berkunjung ke sekolah kami. Tentu saja dengan fukutaichou berwajah rubah di belakangnya. Berikutnya, mereka pun mengurus para hollow itu. Sungguh hebat! Taichou dan fukutaichou itu terlihat hebat dan keren!


Kami takkan berhenti melangkah walau nanti akan kehilangan arah di jalan itu
Kami takkan pernah diam berdiri begitu saja
Tapi kalau tiba saat di mana merasa takut dan menoleh
Apa kami akan menyebut itu takdir?


Few years later...

"Hoi, Hinamori!" panggil Hisagi-kun.

Ahh ya, ia bukan lagi senpaiku. Di Gotei 13, kami semua sama, bahkan pangkatku pun sekarang adalah fukutaichou, sama seperti Hisagi-kun. Aku fukutaichou divisi lima, bawahan Aizen-taichou. Hisagi-kun menjadi fukutaichou divisi sembilan, bawahan Tousen-taichou. Sementara Kira-kun itu fukutaichou divisi tiga, bawahan Ichimaru-taichou, bekas fukutaichou divisi lima yang berwajah rubah itu. Lalu, Abarai-kun menjadi fukutaichou divisi enam, bawahan Kuchiki-taichou.

Kami semua menjadi fukutaichou, itu mungkin kebetulan, kini aku tengah berjalan bersama dengan Shiro-chan, ng, biasanya ia lebih senang dipanggil Hitsugaya-taichou. Tapi, aku kan sudah berjanji dari awal padanya, kalau kami bertemu lagi, aku akan memanggil Shiro-chan dengan nama kecilnya.

"Ya?" jawabku.

"Ng, apa aku mengganggu kalian berdua?" tanya Hisagi-kun, sambil menyembunyikan sesuatu di balik punggungnya.

"Tidak. Aku akan kembali ke divisiku," kata Shiro-chan.

"Dah, Shiro-chan!" aku melambaikan tangan.

"Silahkan, Hitsugaya-taichou," ucap Hisagi-kun sopan.

Shiro-chan berlalu, kami berdua pun memperhatikannya hingga ia menghilang dari pandangan kami. Selanjutnya, aku penasaran dengan benda yang dibawa oleh Hisagi-kun di belakang punggungnya.

"Kau bawa apa, Hisagi-kun?"

"Ehn, ini, ng, bukan apa-apa, kok!" Hisagi-kun tersipu.

"Oh," jawabku sambil berjalan.

"Hinamori, tunggu dulu."

"Ya?"

"Mau menemaniku jalan-jalan sore tidak?"

"Ng..., boleh saja," jawabku sambil tersenyum.

Aku tak takut lagi pada senpai saat bertemu Hisagi-kun. Ia mengajariku banyak hal. Mulai dari hal sepele mengayunkan pedang hingga berani membantah untuk menolongnya. Hadiah kecil berupa jalan-jalan bersama setelah sekian lama sama-sama menjadi fukutaichou itu tak apa, kan?

"Kau dekat dengan Hitsugaya-taichou," Hisagi-kun membuka pembicaraan ketika kami duduk di bukit dekat tempat berlatih divisi 13 yang tentu saja kosong.

"Shiro-chan itu teman kecilku."

"Hng, jadi kau menyukainya?"

"Tentu saja! Namanya juga teman!"

"Bukan begitu, maksudku, lebih dari itu."

"Lebih?"

"Ya sudahlah. Lupakan saja."

"Hei, apa sih? Dari tadi kau terus-terusan aneh. Seperti menyembunyikan sesuatu dariku," omelku sebal, lalu berdiri meninggalkannya.

"Hinamori, a-a-aku menyukaimu?"

"Nani?" aku terkejut dan langsung membalikkan badanku.

"Aishiteru," sekuntum bunga Kikyo yang ternyata sedari tadi disembunyikan Hisagi-kun akhirnya diberikan padaku.

Aku tertegun sejenak, tak menyangka kalau akhirnya ada yang menyatakan cinta padaku. Apalagi dia adalah Hisagi-kun, seseorang yang dulu pernah ku kagumi, namun sekarang menjadi temanku. Kami cukup dekat, tapi aku tak menyangka kalau ia memiliki perasaan 'lebih' terhadapku. Apa ini yang ia maksud 'lebih'?

"A-a-aku pikir kau dan Hitsugaya-taichou itu... ng..." Hisagi-kun speechless.

"Aishiteru yo!" jawabku sambil memeluknya.

"Hinamori?"

"Kau tak mendengarku, ya?" aku mendongak memandang wajahnya.

"Aku dengar, kok!" walau ia merespon dengan suara tegasnya, aku tahu ia tersipu.

Sebenarnya menjadi kohai itu tak terlalu buruk juga, kok. Bertemu senpai seperti Hisagi-kun juga suatu keberuntungan. Keberuntungan karena ternyata ia mencintaiku, mencintai orang yang sedari dulu menjadi penggemar rahasianya. Hihihi...


Benar
Karena itu, kami takkan berhenti melangkah
Walau nanti akan kehilangan arah di jalan itu
Kami takkan berhenti melangkah
Walau...
Nanti akan kehilangan arah di jalan itu


.

.

~O W A R I~

.

.

Read More......