THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Jumat, 08 April 2011

Love Number

-Love Number-
Disclaimer : Bleach © Tite Kubo
Rated : T
Genre : Romance/Hurt/Comfort
Pairing(s) : HitsuMatsu
WARNING : typo(s), OOC
Summary : Ketika cinta dapat diwakilkan dengan angka. Ketika cinta tidak hanya dengan kata.



Satu. Satu kesalahan paling fatal yang dilakukan oleh Matsumoto dan selalu memunculkan simpang empat di dahi Hitsugaya.

"Dimana? Kau sembunyikan dimana, Matsumoto?"

"Aku tidak menyembunyikannya lagi, Taichou."

Sake. Hitsugaya selalu gagal menemukan benda yang satu itu di sekitar Matsumoto. Dan ketika taichou berambut putih itu tidak dapat menemukannya, ia akan mendengus sebal lalu keluar dari ruangan.

"Awas kalau sampai ku temukan!" omelnya.

Hitsugaya akan sangat marah jika menemukan ada sake disekitar Matsumoto. Bukan, bukan karena ia takut Matsumoto akan meminumnya di dalam ruangan. Hanya saja, kalau Hisagi dan Kira bertandang ke divisi sepuluh seperti saat ini, akan lain ceritanya. Nantinya Hitsugaya pasti sangat kerepotan untuk memapah fukutaichounya yang mabuk—dan membuat keributan—itu.

Blam.

Pintu ditutup dan nyaris saja Matsumoto melompat gembira melihat taichounya pergi. Ia melirik ke arah Hisagi dan Kira yang tengah duduk di tengah ruangan.

"Nah, bagaimana kalau kita minum sake?" tawarnya.

"Matsumoto-fukutaichou?" Kira memandang heran.

Selanjutnya beberapa botol sake dikeluarkan oleh Matsumoto dari bawah meja kerja Hitsugaya.

"Aku tahu kalau Taichou pasti tidak akan mencarinya disini," jelasnya.

Hisagi dan Kira hanya menelan ludah, lalu saling berpandangan. Pintu kembali digeser, kemudian Hitsugaya muncul dengan tangan terlipat dan simpang empat di dahinya.

"Jadi... disitu?"

"T-Taichou..."

"MATSUMOTO!"

Dan walau Hitsugaya akan marah besar, Matsumoto tahu bahwa ketika ia kehilangan kesadarannya, tubuh kecil Hitsugaya cukup untuk memapahnya sampai ke rumah.

.

Dua. Dua pertemuan awal dengan Matsumoto yang merubah takdir Hitsugaya. Pertemuan singkat ketika Hitsugaya lagi-lagi diintimidasi karena rambut putihnya yang mencolok. Pertemuan singkat dengan masalah kecil juga—uang kembalian.

"Ini kembalinya," si penjual tersenyum licik sambil menarik uang kembalian yang akan ia berikan.

"..." Hitsugaya hanya menunduk.

"Hei! Apa seperti itu cara memberikan kembalian pada pembeli?" seorang wanita memprotes penjual itu, Hitsugaya hanya memandangnya heran.

Brak.

Karena hantaman—err—dorongan keras dari wanita bernama Matsumoto itu membuat Hitsugaya menabrak kumpulan kayu di belakangnya, lalu terhuyung.

"Kau juga jangan menangis saja! Jadilah anak laki-laki yang tegas!" omel Matsumoto pada Hitsugaya.

"Berisik! Kau tidak usah ikut campur!" omel Hitsugaya balik.

Kemudian seorang anak kecil yang tingginya kurang dari satu meter itu berlari menjauh dari seorang wanita yang—ia anggap—mengganggunya.

Tidak ada yang tahu, kalau wanita itu mengikuti Hitsugaya hingga ke rumah dan bahkan rela menghabiskan waktunya untuk sekedar memperhatikan anak itu. Tidak percuma, Matsumoto tahu jelas dari pertemuan pertama, bahwa Hitsugaya memiliki potensi untuk menjadi seorang shinigami kuat nantinya. Bahwa dengan reiatsunya saja, Hitsugaya mungkin bisa membunuh plus disekitarnya—termasuk sang nenek.

"Hei, bangun," ucap Matsumoto lembut.

Samar Hitsugaya mendengar suara itu dan membuka matanya lebar-lebar, memperlihatkan dengan jelas iris turquoisenya.

"Kau?"

"Shhtt... Kau bisa membunuh nenekmu kalau terus-terusan mengeluarkan reiatsu seperti itu."

"Eh?" Hitsugaya menoleh dan sang nenek sudah menggigil kedinginan.

"Anak kecil, aku hanya akan mengatakannya sekali. Jadilah shinigami."

"Shinigami?"

"Ya."

Dan pertemuan kedua karena reiatsu itu mengubah takdir Hitsugaya.

.

Tiga... dan lima. Ichimaru... dan Hinamori. Cemburu. Secara langsung maupun tidak, cemburu itu ada. Rasa sakit yang tak tertahan di dalam dada muncul ketika salah satu dari mereka ternyata begitu dekat dan berinteraksi. Baik Gin dengan Matsumoto atau pun Hitsugaya dengan Hinamori.

"Taichou... apa kau masih berpikir kalau Gi—maksudku, Ichimaru-taichou ada hubungannya dengan kematian Aizen-taichou?"

"Entahlah," Hitsugaya meneguk tehnya. "Ngomong-ngomong kalau kau sudah bangun, cepat selesaikan pekerjaanmu."

"Hee? Aku kira kau sudah menyelesaikan semuanya, Taichou."

"Berisik! Cepat kerjakan! Aku mau menemui Hinamori."

"Untuk apa?"

"Memperingatinya."

Hinamori adalah orang pertama yang terpenting untuk Hitsugaya dan Matsumoto tahu itu. Rasanya sama seperti Ichimaru yang menganggapnya penting.

Tapi ketika terpaksa melindungi, yang menjadi pilihan kadang tak terduga.

Trang.

Tajamnya ujung zanpakuto bernama Shinso nyaris saja menghancurkan Haineko. Namun, tidak ada itikad mundur dari si pemilik Haineko, ia malah memasang ekspresi keras hati.

"Tolong sarungkan pedang Anda, Ichimaru-taichou!"

"..."

"Kalau tidak Anda lakukan, dengan terpaksa... Anda harus berhadapan dengan saya."

Ichimaru cukup tercengang, lalu menarik kembali pedangnya. Tidak mungkin melawan orang yang amat ia sayangi itu. Tidak mungkin sanggup, sampai kapan pun. Tapi jelas sekali Matsumoto rela melindungi apa yang dilindungi Hitsugaya—Hinamori.

.

Empat. Empat musim lebih mereka lalui bersama. Musim gugur yang identik dengan warna rambut Matsumoto dan musim dingin yang identik dengan warna rambut Hitsugaya. Sesuai dengan ulang tahun mereka. Di penghujung bulan September dan Desember. Musim gugur dan musim dingin. Sesuatu yang cukup berlawanan.

"Taichou~, ayolah, aku kan sedang berulang tahun."

"Berulang tahun bukan berarti kau harus mengabaikan pekerjaanmu."

"Ayolah Taichou, kau kan jenius, dan pasti bisa mengerjakan semua paper work itu," tunjuk Matsumoto pada paper work yang menggunung.

"Tidak. Selesaikan pekerjaanmu, dan kau baru boleh pergi."

Matsumoto menggembungkan pipinya sebal, lalu berjalan menuju meja kerjanya. Jangan berharap fukutaichou divisi sepuluh itu akan menggunakan waktunya untuk tenggelam ke dalam paper work. Belum selembar ia kerjakan, suara gaduh mengusik ketenangan divisi sepuluh.

"SELAMAT ULANG TAHUN, MATSUMOTO-FUKUTAICHOU!"

Siapa lagi kalau bukan para shinigami lain yang sudah diundang oleh Matsumoto? Dan Hitsugaya sepertinya harus menggunakan waktu istirahatnya lagi nanti malam untuk mengerjakan paper work yang masih tersisa. Mungkin saja tidak, kalau Matsumoto tidak menarik tangan pemuda itu dan mengajaknya turut serta dalam pesta.

Tidak ada alasan untuk Hitsugaya bilang bahwa ia membenci keramaian. Mau bersembunyi dimana? Jangan lupakan bahwa pesta ini dirayakan di divisinya.

Lain cerita dengan ulang tahun Hitsugaya yang sederhana—hanya ditemani kembang api dan beberapa teman.

Duarr.

Kembang api lagi, entah sudah yang ke berapa. Iris turquoise Hitsugaya tidak berpindah dari kembang api itu. Seperti dirinya. Saat ini ia sedang menjalani hidupnya sebagai kembang api yang siap meledak di langit dan terlihat indah bagi siapa pun yang memandangnya.

"Selamat ulang tahun, Taichou."

"Selamat ulang tahun, Shiro-chan."

"Selamat malam dan selamat ulang tahun, Hitsugaya-taichou."

Sederhana. Tapi berada di tengah-tengah orang yang menyayanginya—dengan mengingat ulang tahunnya, bagi Hitsugaya, itu semua sudah lebih dari cukup. Aizen, Hinamori, dan... yah, tentu saja Matsumoto.

Dan jangan lupakan bahwa kembang api itu terkadang cukup berisik. Tapi bagi Hitsugaya, tidak masalah, selama masih ada yang lebih berisik dari kembang api itu—fukutaichounya. Orang yang selalu memeriahkan hidupnya dengan kejutan kecil seperti kembang api.

Karena perbedaan, adalah cara mereka saling melindungi, saling mengerti, saling memahami, dan saling mengisi. Dan itu terjadi ketika cinta tidak hanya diungkapkan lewat kata.

.

.

~O W A R I~

.

.


Read More......

Jumat, 04 Maret 2011

Winter

Aku membuka mataku pelan-pelan ketika cahaya matahari mulai menyusup melalui kisi-kisi jendela. Ahh, sudah pagi rupanya. Sepertinya aku ingin malam lebih lama sedikit. Setidaknya lima menit saja, supaya aku bisa menutup kembali mataku sebelum...

"Byakuya!"

Demi Kami-sama, rasanya aku baru saja menutup mataku untuk sekedar beristirahat setelah melalui kelas tata krama oleh seorang guru terbaik—kata Jii-sama. Separuh hati aku mengikuti kelas itu, mempelajari bagaimana bersikap seperti layaknya bangsawan ternama. Oh, bisakah aku membuang embel-embel 'Kuchiki' di belakang namaku? Dan bolehkah aku mengutuk diriku yang terlalu menonjol sehingga dapat dipastikan akulah pewaris tunggal kepala keluarga Kuchiki selanjutnya? Oke, sekarang saatnya aku untuk bangun dan menjawab panggilan Jii-sama, atau...

"Byakuya Kuchiki!"

"I-Iya, Jii-sama!" aku buru-buru bangun dari atas futonku.

Setiap pagi, Jii-sama hanya akan memanggilku dua kali, dan kalau aku tidak mendengarnya, reiatsunya yang bertindak. Tidak, ia tidak jahat, tidak ku pungkiri kalau aku itu seorang pangeran Kuchiki yang susah sekali jika dibangunkan—kalau bukan Jii-sama yang turun tangan langsung.

Sreeg

Aku menggeser pintu kamarku dan langsung dihadiahkan tatapan tanpa ekspresi dari Jii-sama. Sungguh aku sama sekali tidak bisa membaca sikap tenang dan mimik wajah yang tidak pernah berubah itu. Datar, tanpa emosi, dan tidak akan menggerakan alis apapun yang terjadi. Menurut ilmu dari guru tata kramaku, itulah cara bangsawan bersikap. Tapi sepertinya aku masih belum bisa seperti itu.

"Aku akan ke divisi enam, jangan lupakan latihan kendomu hari ini."

"Baik, Jii-sama."

"Cepat rapikan dirimu."

"Ya, Jii-sama."

Aku membungkukan badan, sebelum akhirnya Jii-sama melangkah pergi. Tapi jangan harap kalau Jii-sama pergi, berarti sudah bebas. Ribuan pasang mata ada di Mansion Kuchiki dan berbagai kabar 'penyimpangan' yang ku lakukan akan segera sampai pada Jii-sama.

Aku menghela nafas, lalu mengambil pita untuk mengikat rambut hitam sebahuku. Setelahnya, aku pun beranjak menuju ke kamar mandi. Perintah Jii-sama adalah mutlak dan tidak boleh dilanggar oleh siapa pun yang ada di Mansion Kuchiki—termasuk aku.

.

.

-Winter-
[Sedingin hatiku yang mudah leleh]
Disclaimer : Bleach © Tite Kubo
Rated : T
Genre : Friendship/Romance
Pairing(s) : ByaYoru
WARNING : typo(s), OOC, all of this story is Byakuya's POV
Summary : Mengapa aku sangat membenci pemuda urakan yang tidak tahu sopan santun? Karena kau pasti akan menolongnya dan dekat dengannya. Sementara aku takkan bisa seperti itu.

.

.


Sore hari adalah waktu yang tepat untuk aku latihan—saat matahari sudah mulai jinak memancarkan cahayanya. Tidak segarang saat siang hari yang begitu terik. Sudah berulang kali aku menyeka keringat dari wajahku, tapi berulang kali keluar lagi. Aku tidak terlalu lelah, hanya saja reiatsu ini, rasanya aku kenal.

"Yo, Byakuya-bo!"

Duk!

Seorang wanita berkulit hitam dengan rambut ungu panjang menggangguku dan langsung membuatku naik pitam karenanya.

"Bake neko!" omelku. "Pergi kau dari sini!"

"Hooo, kau galak sekali. Bagaimana kalau kita main onigoto?"

"Aku tidak punya waktu untuk bermain denganmu!"

"Benarkah? Kalau begitu, pita ini aku ambil!"

Sreeet

Pita yang ku gunakan untuk mengikat rambutku dalam sekejap berpindah ke tangannya. Grrrr... Wanita ini benar-benar membuatku naik pitam! Aku bukan anak kecil lagi, tahu! Aku tidak akan repot-repot meladeninya main onigoto kalau bukan karena pita rambutku yang diambil olehnya.

"Bake neko! Kembalikan!"

"Ambil sendiri, Byakuya-bo!"

Aku mengenalnya... wanita ini—Yoruichi Shihouin—sebagai seorang putri cantik yang merupakan kerabat dekat dari keluarga Kuchiki. Tentu saja termasuk satu dari empat bangsawan besar. Kelakuannya memang seenaknya dan suka sekali menggangguku, tapi di setiap tindakannya, ia selalu tampak—err—anggun. Apakah itu juga merupakan ciri dari seorang bangsawan?

"Bake neko!"

"Sudah menyerah, he, Byakuya-bo?"

Shunshin Yoruichi adalah julukannya. Tidak heran kalau sampai kapan pun aku takkan bisa mengejar dan menangkapnya. Shinigami lain saja mengakui kehebatannya dalam ber-shunpo—dia tak terkalahkan. Eh? Kenapa aku jadi memujinya terus? Bake neko itu kan menyebalkan! Bagaimana pun, aku tidak boleh kalah darinya untuk merebut pita itu.

"Byakuya-bo~!" godanya, membuatku tambah panas saja.

"Bake neko! Kembalikan! Hosh... Hosh..."

Sial! Terlalu lelah. Berlari segini saja aku sudah kelelahan dan nafasku sudah tidak beraturan. Bake neko itu malah tertawa makin lebar, lalu berhenti di bawah sebuah pohon sakura. Aku mengatur nafasku lalu menerjangnya untuk mendapatkan kembali pita rambutku. Namun, tentu saja ia bisa menghindar lebih cepat dariku.

"Nah, kau menyerah, Byakuya-bo?"

"Tidak, hosh... aku pasti akan mendapatkan pitaku kembali, hosh..."

"Sudahlah, jangan memaksakan diri."

"Cih! Siapa yang memaksakan diri?"

"Nih, mau ku berikan, tidak?" tawarnya sambil menyodorkan pita di tangannya.

Bruk!

Aku gagal mengambil pita rambutku dari tangannya dan malah terjatuh. Salahnya karena ia bukannya memberikan pita itu malah mundur beberapa langkah.

"Cih," aku membersihkan rumput yang menempel di bajuku.

"Hehehe... Ternyata kau tidak bisa, kan?" tanya Yoruichi, lalu duduk di bawah pohon sakura itu.

Aku menghela nafas panjang, lalu ikut duduk di bawah pohon sakura itu. Sebentar lagi musim semi akan segera berakhir, dan tidak heran kalau ada beberapa kelopak sakura yang berguguran.

Ku lirik wanita berkulit hitam di sampingku tadi, ia sudah tidak ada—digantikan oleh seekor kucing hitam yang menjilati kaki depannya di atas haori kapten dengan nomor dua dan juga shihakusho. Kaki yang satunya lagi menginjak pita rambutku.

"Kembali ke wujud aslimu, he, bake neko?"

Kucing hitam tadi tidak menjawabku, hanya memberikan pita yang ada di bawah kaki kanan depannya, lalu menggeliyat di atas pangkuanku. Kucing ini... kesal sih, namun akhirnya aku membiarkan ia tidur di atas pangkuanku.

"Kau menyebalkan!"

Aku membelai kucing hitam itu dengan lembut. Bulunya halus. Tidak semenakutkan penampilannya dan—malah menurutku—Yoruichi cukup manis. Kucing adalah binatang teranggun, bukan? Tidak salah kalau ia menjelma menjadi seekor kucing manis ini.

"Kau akan jadi temanku selamanya kan, bake neko?"

Kucing itu menggeliat lagi, dan makin lama, aku pun terpanggil ke dunia mimpi.

.

.

Aku membuka mataku pelan-pelan, dan mendapati diriku di gendongan seseorang yang ber-shunpo menuju ke mansionku. Apa bake neko itu? Ya, pasti dia, aku hafal sekali dengan wanginya yang khas ini.

"Kau sudah bangun Byakuya-bo?"

"Emm?"

"Hahh, kau merepotkanku saja, malah tertidur."

"Kau kan juga tertidur tadi!"

"Hehehe... Aku jadi terpaksa berbohong pada Jii-sama mu lagi, deh."

J-Jii-sama? Ahh! Aku hampir saja lupa kalau ini sudah malam dan Jii-sama pasti akan menghukumku kalau ketahuan aku terlalu terlambat sampai di rumah. Tapi sepertinya aku terlalu terlambat untuk memikirkan alasan yang baik, karena aku dan bake neko ini sudah kembali sampai di Mansion Kuchiki.

Demi Kami-sama, di depan Mansion, Jii-sama sudah menyambut kami dengan wajah datarnya—seperti biasa.

"Konbanwa, Ginrei-jii!" sapa Yoruichi.

"Konbanwa. Bisa kau berikan aku alasan keterlambatanmu, Byakuya?"

"A-Anoo..."

"Ini salahku, Ginrei-jii, aku yang memaksanya untuk latihan bersamaku hingga ia kelelahan."

"Bukankah Urahara lebih sering menemanimu?"

"Aku hanya ingin tahu saja kemampuan cucumu."

"Baiklah. Masuk, Byakuya."

Aku hanya mengangguk, lalu masuk ke dalam mansion, sekilas aku melihat cengiran lebar dari Yoruichi.

Terima kasih.

Musim dingin akan segera berakhir, biasanya Yoruichi akan mampir ke Mansion Kuchiki dan membawakan hadiah untukku. Natal. Aku menyukai hadiah-hadiah Yoruichi. Tahun lalu ia memberikanku sebuah syal, lalu kami pergi ke kuil bersama untuk berdoa.

Aku menunggunya sambil memperhatikan salju-salju yang turun dari langit. Pemandangan yang sungguh indah sekali. Sesekali aku memainkan salju yang turun dengan membuatnya menjadi bola-bola salju kecil. Ia belum datang juga.

"Byakuya."

Suara Jii-sama yang memanggilku. Aku pun langsung menghampirinya yang berada di depan pagar—tidak jauh dari tempatku termenung tadi.

"Ada apa, Jii-sama? Apa Yoruichi akan ke sini?"

"Yoruichi, dia berkhianat."

"Tidak! Jii-sama pasti bohong, kan?"

"Dia kabur bersama Urahara Kisuke."

"Tidak mungkin! Yoruichi tidak akan melakukan itu!"

"Dan mereka dinyatakan telah diusir dari Soul Society."

Tidak! Tidak! Jii-sama pasti bohong, kan? Bake neko itu tidak akan melakukan hal bodoh yang membuatnya diusir kan? Ia sudah berjanji untuk menjadi temanku selamanya! Ia sudah berjanji! Kenapa ia mengingkarinya! Tidak! Tidak! Aku tidak percaya kalau ia sudah diusir dari Soul Society!

Aku kesal, dan langsung berlari jauh dari mansionku. Meninggalkan Jii-sama yang masih terpaku di tempatnya. Aku tidak perduli walau dinginnya udara menusuk tulangku, aku tidak perduli walau nanti Jii-sama akan marah. Aku... tidak perduli pada apapun lagi. Dan bahkan aku tidak tahu ke mana kaki ini membawaku pergi.

Yang aku tahu, aku ingin lari, terus berlari, kalau perlu, sampai bisa bertemu bake neko itu. Kalau perlu, aku ingin menahannya dan bilang 'Jangan pergi!' atau 'Aku ikut!'. Aku ingin sedikitnya ada alasan yang terlontar dari mulutnya. Tidak seperti ini. Bukan di saat natal begini.

Bruk!

Aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Aku tidak tahu dimana aku terjatuh. Tempat ini asing bagiku. Aku pastilah sudah terlalu jauh berlari hingga tidak tahu tempat apa ini.

Tap srak tap srak

Langkah kaki yang sedikit membelah salju mengalihkan perhatianku. Seorang anak perempuan mungil menghampiriku.

"Kau tidak apa?" tanyanya.

Bukannya menjawab, air mata malah mengalir dari mataku. Aku tidak dapat menahannya lagi. Aku tidak tahu harus apalagi.

"Anak laki-laki tidak boleh menangis, loh."

"Tahu apa kau?"

"Kau galak sekali. Kau akan sakit kalau terus-terusan di sini."

"Aku tidak perduli!"

"Hmm... Ya sudah, aku tinggal pergi, ya?"

Anak ini mau pergi. Lalu nanti bagaimana caraku kembali? Aku saja tidak tahu ini dimana.

"T-Tunggu!" aku menahan tangannya. "Maafkan aku."

"Hhh, kau kenapa, sih?"

"Aku tidak tahu jalan pulang ke rumah."

"Kau tersesat rupanya. Padahal kau lebih besar dariku, tapi tidak bisa pulang ke rumah sendiri."

"Berisik!"

"Huh! Kau ini! Asalmu pasti dari Seiretei!"

"Bagaimana kau bisa tahu?"

"Tentu saja aku tahu! Orang-orang di sana selalu tampak sombong!"

"Memangnya darimana asalmu?"

"Inuzuri. Cukup jauh dari distrik empat ini. Salju akan terus turun, lebih baik kau pulang."

Anak perempuan itu membantuku berdiri. Selanjutnya, ia tersenyum hangat, lalu meniup niup kedua belah tangannya—kedinginan.

"Pakai ini," aku memakaikan sarung tanganku.

"Nanti kau kedinginan, loh!"

"Kau sendiri saja malah memakai baju setipis itu?"

"Aku tidak punya pakaian lagi."

"Kenapa?"

"Bodoh! Tentu saja aku tidak punya uang untuk membelinya!"

Anak perempuan ini baik hati, tapi cukup mengesalkan juga. Mengingatkan aku pada bake neko itu. Cih! Kenapa begitu sakit dadaku setelah kepergiannya? Apa dia akan kembali? Lalu apakah aku akan bisa bertemu dengannya lagi?

"Siapa namamu?"

"Eh? Byakuya, Byakuya Kuchiki."

"Seorang Kuchiki. Pantas."

"Kenapa?"

"Tidak."

"Lalu, namamu siapa?"

"Hisana."

Sudah seratus tahun lebih berlalu semenjak kepergian Yoruichi, dan sama sekali tidak ada kabar darinya. Entahlah, mungkin ia sudah mati. Aku pun menjalani hari-hariku seperti biasanya—tanpa dia. Hisana sudah cukup untuk menggantikan Yoruichi. Hisana... yang juga pergi meninggalkanku lima puluh tahun yang lalu. Bukan berkhianat, aku sama sekali tidak tahu kalau ia sakit dan akhirnya meninggal sebelum musim semi datang.

Aku kini telah menggantikan Jii-sama menjadi kepala keluarga ke dua puluh delapan Kuchiki—ditandai dengan kenseikan yang melekat di kepalaku. Aku pun telah menjadi kapten divisi enam—dengan bukti haori kapten berlambang enam yang ku pakai. Janjiku pada Hisana sudah ku tepati, aku telah menemukan adiknya—Rukia—tepat setahun setelah ia meninggal, dan tentu saja, aku membawanya tinggal bersamaku.

Aku tahu bahwa yang ku lakukan—lagi-lagi—melanggar aturan. Setelah membawa Hisana ke dalam keluarga Kuchiki dan menikahinya menjadi awal, aku mengakhirinya dengan mengadopsi Rukia. Karena itu, setelahnya aku berjanji di depan makam kedua orang tuaku, bahwa aku tidak akan pernah lagi melanggar aturan. Aku akan mematuhi dan menjalankan aturan yang ada di Soul Society—apapun konsekuensinya.

Tapi bagaimana ketika aku harus dihadapi pada sebuah dilema? Antara sumpahku pada kedua orang tuaku dan janjiku pada Hisana?

"Keputusan ruang 46 untuk Kuchiki-taichou dan Abarai-fukutaichou, segera mencari terdakwa Kuchiki Rukia di dunia nyata. Dalam hal ini, anda diperbolehkan menggunakan cara apapun."

Aku masih ingat—jelas—bagaimana keputusan itu dibacakan. Begitu tegas dan lantang, juga jelas artinya, apapun yang terjadi, aku harus membawa Rukia kembali ke Soul Society—meski aku harus membunuhnya sekali pun. Kenapa Rukia? Apakah sebegitu pentingnya pemuda urakan bernama Ichigo Kurosaki itu untukmu?

Aku juga ingat kalau aku sendiri lah yang harus mengurung adikku dalam penjara sebagai tahanan khusus. Aku sendiri pula yang harus membacakan seluruh perkembangan dari keputusan ruang 46 pada Rukia. Aku sendiri. Bagaimana hatiku tak hancur? Aku sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi untuk mengungkapkan keluh kesahku. Tidak kakekku, tidak orang tuaku, tidak Hisana, dan tidak—Yoruichi. Meski tahun demi tahun berlalu, tapi ingatanku tentangnya belum sirna begitu saja.

Tidak. Semua perasaan senang, sedih, rasa suka, rasa benci, itu sangatlah tidak penting untuk seorang bangsawan sepertiku. Sejak kecil aku dilatih untuk membuang rasa itu jauh-jauh, bukan? Peraturan berdiri di atas, dan peraturan lebih penting daripada apapun.

Dan sejak awal, aku membencinya, dia—Ichigo Kurosaki—telah mengusik ketenangan hidupku dan adikku. Pertama, dia yang mengambil kekuatan shinigami Rukia. Kedua, dengan modal sikap sok pahlawannya, ia nekat menerobos pertahanan Gotei 13 demi menyelamatkan Rukia dan mengganggu ketenangan.

Ya, mirip dengan Kaien-fukutaichou yang bertindak sebelum berpikir. Persis seperti Urahara Kisuke yang bahkan tidak pernah memikirkan akibat tindakannya. Apa memang semua pria urakan seperti itu? Tidak tahu adat dan tidak tahu aturan? Merepotkan.

Dan kini dia ada di depanku. Berkata lantang dan ingin membunuhku dengan tangannya sendiri. Berkata kosong, menurutku. Bisa apa dia dengan kekuatan seperti itu saja? Kekuatannya mutlak berbeda jauh denganku.

"Chire, ..."

Sreeeet

Belum sempat aku memanggil nama zanpakuto dan membuatnya menyayat kulit bocah ini, seseorang telah menggagalkannya. Eh?

"Kau..."

"Yoruichi!" pekik Ukitake-taichou yang berada di belakangku.

Kau kembali—Yoruichi Shihouin. Rambut ungumu bertambah panjang, dan kau dapat mengikatnya sekarang. Tatapanmu... itu... kenapa tidak seperti dulu? Mengapa kau menatapku seperti itu, Yoruichi?

Kau tidak lagi seperti dulu, aku sama sekali tidak mengenalmu. Kau yang menatapku dengan tatapan meremehkan dan seolah berkata kau-bukanlah-tandinganku. Mengapa? Bukankah dulu kau menatapku dengan pandangan percaya? Percaya kalau selamanya aku akan menjadi temanmu—orang yang kau sayangi, walau aku menatapmu benci.

Kenapa? Kenapa kau selalu memberi perhatian lebih pada orang-orang yang tidak mengerti tata cara bersikap? Kenapa kau mengatasnamakan keadilan untuk membantu orang-orang—yang bahkan—tidak tahu aturan? Urahara Kisuke, dan bocah itu, Ichigo Kurosaki.

"Lama tidak bertemu, Byakuya-bo!"

"Yoruichi Shihouin," panggilku dingin.

Selanjutnya, kau mendekati bocah itu dan...

Jleb!

Kau menembus perutnya dengan tanganmu. Untuk apa?

"Obat, ya?" tanya Ukitake-taichou.

Hoo... Obat rupanya. Tunggu, kau menyembuhkannya? Untuk apa? Dan... dan... kau menggendongnya dengan tanganmu sendiri! Hei! Apa sebegitu perdulinya kau pada keselamatan bocah itu? Mengapa sampai-sampai kau rela mengotori tanganmu untuk menyelamatkan bocah itu?

"Takkan ku biarkan. Kau takkan bisa lari dari sini," ucapku dingin.

"Hooo... Gaya bicaramu sudah sok, Byakuya-bo," kata Yoruichi sambil memapah Ichigo, "Memangnya kau pernah menang main onigoto denganku?"

Cih! Kau benar-benar menantangku, Yoruichi?

"Kalau begitu, mau dicoba?"

Yoruichi, kau pikir untuk apa aku selalu berusaha menguasai shenka? Untukmu, kau tahu? Agar setidaknya—walau aku tak bisa menandingimu—aku bisa sejajar denganmu. Walau seratus tahun berlalu, ternyata masih belum bisa, aku belum bisa melampaui Yoruichi. Tapi, ah! Kena! Kau lengah dan aku berhasil menusukmu.

"Kau pikir bisa lari dariku dengan shunpo selevel itu?"

Senbonzakuraku melukai kulitmu, kan, Yoruichi? Apa sakit? Kau pikir lebih sakit mana dengan hatiku yang kau khianati seratus tahun la—ahh! Apa-apaan? Kain?

"Kau pikir bisa menangkapku dengan shunpo selevel itu?"

Cih! Ternyata benar, aku masih belum bisa melampauimu.

"Tiga hari. Dalam tiga hari, akan ku buat dia jauh lebih kuat darimu."

Kau tetap menatapku begitu, Yoruichi? Bolehkah aku sakit hati karena tidak lagi kau percaya?

"Kalau mau mengejar, silahkan saja!" tantang Yoruichi sebelum pergi.

Dan kau pergi lagi, Yoruichi. Tak mungkin ada yang sanggup mengejarmu.

.

.

Sudah berapa kali aku berkata bahwa aku sangat membenci ryoka di hadapanku ini. Sangat membencinya. Apalagi ketika aku tahu—di depan mataku—Yoruichi membantunya, memapah bocah ini dengan tangannya sendiri.

Kau tahu, Ichigo? Aku iri. Aku iri karena Yoruichi jauh lebih perhatian padamu daripada aku! Aku iri karena Yoruichi lebih memperdulikanmu daripada memikirkan bagaimana perasaanku! Aku iri karena Yoruichi jauh lebih mencemaskan keselamatanmu daripada aku! Dan aku akan membunuhmu agar aku mendapat perhatian Yoruichi kembali.

Aku tahu aku naif, mengatas namakan adikku untuk dapat melawan Ichigo. Aku tahu aku terlalu posesif dengan semua keinginanku atas Yoruichi. Tapi semua karena hatiku terlalu kesepian. Karena pengkhianatan itu membuatku jauh dari Yoruichi. Padahal kami sahabat dekat. Padahal ia berjanji tidak akan pergi. Tapi, apa?

Wanita itu malah melatih Ichigo dengan sekuat tenaganya. Tiga hari, dan ia mendapatkan bankai. Apa-apaan? Bankai itu tidak didapatkan semudah itu. Jelas ia telah menginjak-injak harga diri kami para shinigami. Cih!

Aku bertarung dengannya, menggunakan bankaiku. Bertarung sekuat tenaga untuk yang pertama kalinya. Bertaruh hidup dan mati untuk Rukia dan juga—ya—untuk Yoruichi. Aku tidak tahu mengapa, walau aku sudah begitu benci padanya, tapi dia tetap tidak mau pergi dari pikiranku.

Ya, kau memang bodoh, Byakuya Kuchiki. Bodoh.

Jangankan untuk menyentuh Yoruichi, untuk mengalahkan bocah didikannya saja, aku tidak mampu. Ya, aku tahu kalau aku sangatlah payah. Maukah kau memaafkan kelemahanku ini, Yoruichi?

Kau tahu mengapa aku sangat membenci pemuda urakan yang tidak tahu sopan santun? Karena kau pasti akan menolongnya dan dekat dengannya. Sementara aku takkan bisa seperti itu.

Selamanya, aku akan seperti ini.

Musim salju lainnya datang. Begitu pun dengan natal lainnya. Rukia menghabiskan waktu untuk bertengkar dengan Ichigo dan Renji di halaman rumahku. Sedari tadi. Aku malas menanggapi mereka.

Ya, Ichigo bukan lagi ryoka, ia menjadi shinigami daiko yang bertugas di Karakura untuk Gotei 13. Ia memang kuat—ku akui akhirnya. Pertarungan dengan ryoka sudah lama berlalu, namun aku tidak lagi melihatnya—Yoruichi.

Salju turun di natal kali ini. Sama seperti saat pengkhianatannya seratus tahun lebih yang lalu. Tapi, bolehkah aku berharap akan kedatangannya hari ini? Ahh, terlalu naif rasanya.

Aku memandangi Ichigo, Renji, dan Rukia yang kini tengah bermain bola salju dan membentuknya menjadi boneka. Sesekali mereka bertengkar karena Rukia ingin menggunakan figur Chappy di boneka itu, sementara Renji dan Ichigo enggan. Atau karena Renji yang iseng melemparkan bola salju ke Ichigo dan Rukia. Sepertinya menyenangkan. Namun bukan masaku lagi untuk bermain seperti itu, aku hanya akan memandangi dan merasakan kesenangan mereka.

"Yo, Byakuya-bo!"

Suara itu...

"Yoruichi?"

"Hehehe... Kau melamun sampai tidak tahu aku datang? Dasar payah!"

Yoruichi tersenyum lebar, lalu menghempaskan diri dengan duduk di sampingku. Matanya langsung memandang ke arah tiga orang yang sedari tadi ku perhatikan. Setelahnya, ia malah tersenyum lebar lagi dan menatapku.

"Kau iri pada mereka? Kenapa tidak ikutan saja?"

"Aku tidak akan melakukan hal bodoh itu."

"Hooo... Kau lupa dulu kita pun seperti itu, Byakuya-bo?"

"Itu masa lalu."

"Hehehe... Lalu, hadiah ini ku berikan pada siapa, ya?"

Aku tidak menjawab, hanya melirik kado yang ia pegang. Tidak besar, mungkin hanya sebesar genggaman orang dewasa.

"Hohoho... Kau tertarik, Byakuya-bo?"

Aku lagi-lagi tidak menjawab. Terserahlah ia akan berikan atau tidak hadiah itu. Ku pandangi salju yang turun dari langit, tetap indah bagaimana pun melihatnya.

"Sudahlah, ambil ini, Byakuya-bo!"

Yoruichi menyodorkan hadiah yang dibawakannya padaku. Aku pun mengambil hadiah itu dari tangannya.

"Apa ini?"

"Buka saja."

Aku membuka hadiah itu, dan ternyata berisi gantungan kunci. Gantungan kunci Seaweed Ambassador—kesukaanku. Mata abu-abuku langsung membulat melihat hadiah di hadapanku.

"Ku pikir kau akan menyu—"

"Terima kasih."

Aku tahu bahwa memotong omongan orang lain adalah tidak sopan. Namun itu malah membuat Yoruichi tertawa lebar kepadaku. Ke-pa-da-ku?

Kami-sama, sebenarnya apa yang ku pikirkan? Dia tidak pernah berubah, sebenarnya. Sama seperti dulu. Pandangannya hangat dan mempercayaiku. Aku tersenyum tipis untuk menanggapi tawanya. Setidaknya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan seratus tahun lebih yang lalu.

Di musim dingin kau pergi, dan di musim dingin kau kembali. Aku tidak tahu bagaimana hatiku menerimanya. Yang aku tahu, hatiku yang sekeras bongkahan es ini mudah mencair seperti salju karenamu.

.

.

~O W A R I~

.

.

Read More......

Rabu, 25 Agustus 2010

Cita-Citaku

-Cita-Citaku-
Disclaimer : Bleach © Tite Kubo
Rated : K+
Genre : Family/Hurt/Comfort
Pairing(s) : ByaHisa
WARNING : AU, typo(s), (sedikit) OOC, all of this story is Rukia's POV
Summary : Kalau yang lain punya cita-cita ingin jadi insinyur, polisi, dokter, aku lain. Aku hanya ingin ayahku mengambil raporku dan berkata bangga, 'itu putriku'.


Namaku Rukia Kuchiki, aku kelas dua SD, usiaku masih sangat muda, enam tahun. Mungkin aku yang paling muda di kelas karena aku masuk SD Karakura ini saat berumur lima tahun. Itu pun agak sulit karena saat yang lain dapat masuk dengan mudah, aku harus menjalani tes membaca dan berhitung. Beruntung aku memiliki otak yang cukup cerdas hingga dapat melewati tes itu dengan mudah.

Baiklah, SD Karakura ini adalah sekolah elit dengan hanya murid-murid terpilih saja yang dapat diterima. Walau kau punya uang banyak, namun jika otakmu tak cemerlang, kau tak akan mampu untuk masuk ke sekolah ini. Benar-benar ketat, bukan? Ya, itulah sekolahku.

Di SD Karakura juga ada fasilitas asrama putra dan putri, aku termasuk satu dari sekian banyak siswi putri yang tinggal di asrama. Aku ini agak nakal, senang memanjat pagar dan bermain dengan anak laki-laki di asrama sebelah. Biasanya kami bermain sepak bola atau petak umpet, kalau sudah begitu, Unohana-sensei, kepala asrama putri, pasti akan memarahiku habis-habisan. Tapi tak sekalipun aku kapok, tuh. Hihihi...

Ahh ya, hari ini Sabtu pagi, saat beberapa murid di asrama untuk pulang ke rumah, aku duduk di kursi taman dekat gerbang. Namun, aku yakin, hari ini ibu tak akan menjemputku. Karena ini awal minggu, dan aku pulang ke rumah paling cepat seminggu sekali. Atau jika orang tuaku sibuk di luar kota, aku hanya pulang ke rumah satu bulan sekali. Sedih sekali rasanya melihat teman-temanku yang dipeluk oleh orang tuanya di depan gerbang, sementara aku hanya dapat menontonnya. Apalagi Senna, teman sekelasku, sering sekali mengejekku dan berkata kalau aku tak disayang, karena itu aku tak dijemput. Aku semakin sedih, kadang aku jadi marah dan bertengkar dengannya.

"Rukia," sapa seseorang, yang tentu saja mengejutkanku.

"Ichigo," aku menoleh pada siswa berambut oranye yang kini duduk di sampingku.

"Tak dijemput lagi?"

"Ya. Kau pasti akan mengejekku."

"Hari ini tidak, soalnya aku pun tidak dijemput."

"Jadi kalau kau dijemput, kau akan mengejekku? Begitu?"

"Niatnya. Hehehe..." Ichigo nyengir lebar, membuatku kesal saja.

"Menjauhlah dariku!" sahutku sebal.

"Rukia, kau ini sensitif sekali. Aku hanya bercanda tauk!" Ichigo berkacak pinggang.

"Terserah kau saja."

"Iya, maaf. Nanti, saat jam bebas, ku belikan es krim vanila di kantin!" rayu Ichigo.

"Betulan, ya?"

"Hm," Ichigo mengangguk.

Aku tersenyum, lalu menggerak-gerakkan kakiku. Ichigo pun ikut tersenyum lebar. Entah sejak kapan aku bisa dekat dengan cowok cengeng ini. Yang aku tahu, saat itu Ichigo hanya kesulitan mengerjakan PR dan kebetulan aku sedang mampir ke asrama putra. Aku pun membantunya mengerjakan PR dan kami berdua jadi dimarahi oleh Ukitake-sensei yang saat itu sedang berkeliling asrama putra. Akhirnya setiap jam pulang, kami tak langsung kembali ke asrama, tapi mengerjakan PR bersama karena ternyata, Ichigo baru sadar kalau kami sekelas. Ampun deh, ingatannya tentang nama dan wajah orang itu sangat lemah sekali.

Ichigo cengeng. Ia sering sekali menangis saat kalah bermain ataupun saat tak bisa mengerjakan soal. Namun kau dapat melihat wajahnya yang amat bahagia saat melihat ibunya yang menjemputnya setiap seminggu sekali. Jarang sekali ibunya itu absen kecuali jika benar-benar ada acara mendadak.

"Hei, Rukia!"

"Apa?"

"Kau sudah mengerjakan PR?"

"PR?"

"PR Bahasa Indonesia yang tentang menceritakan cita-cita kita itu."

"Belum."

"Nanti kerjakan sama-sama, yuk!"

"Tidak mau, nanti aku dimarahi lagi oleh Unohana-sensei."

Ichigo mengerucutkan bibirnya tanda sebal, tapi aku tak perduli. Sebenarnya, perduli sih, hanya saja, aku sedang malas bermain ke asrama putra. Soalnya tadi ku lihat Renji, Kira, dan Hisagi pulang ke rumahnya, aku jadi tak ada teman bermain.


Senin pagi...

Tak tuk tak tuk tak tuk

Aku mengetuk-ngetuk pensil mekanik yang kugunakan untuk menulis. Di depan kini ada teman sekelasku, Orihime Inoue yang sedang membacakan hasil pekerjaannya. Aku hanya memandang sekeliling sambil sesekali melirik ke arah Inoue, memperhatikannya.

Sejak tadi bermacam-macam cita-cita telah dibacakan. Aku jadi merasa minder dengan hasil pekerjaanku. Ku lihat ke arah Aizen-sensei, sepertinya ia puas dengan hasil pekerjaan Inoue yang memang bagus. Cita-citanya banyak, ingin menjadi dokter, astronot, tukang masak, dan entah apalagi.

"Rukia Kuchiki."

Tak terasa sudah giliranku. Aku membawa buku tugasku ke depan kelas, lalu perlahan membalik halamannya. Setelah itu, aku menghela nafas dan mulai membaca kata-kata yang tertulis di situ.

"Kalau yang lain punya cita-cita ingin jadi insinyur, polisi, dokter, aku lain. Aku hanya ingin ayahku mengambil raporku dan berkata bangga, 'itu putriku'."

Walau sedikit, aku dapat melihat reaksi bingung yang ditunjukkan oleh Aizen-sensei dan teman-temanku. Aku pun kembali melanjutkan membaca pekerjaanku lagi.

"Karena ayahku selalu sibuk bekerja, aku sedih. Padahal aku anak satu-satunya, tapi ia tak pernah menyempatkan waktu untukku."

Kali ini terlihat mata Aizen-sensei agak berkaca-kaca. Aku tak tahu mengapa, namun aku tak mungkin menghantikan membaca pekerjaanku.

"Karena itu, untuk mewujudkan cita-citaku, aku akan belajar dengan keras agar ayahku mengambil raporku dan bangga padaku. Sekali saja. Itu akan membuatku amat bahagia. Itulah cita-citaku."

Singkat. Namun mungkin karena tulisanku besar-besar, tulisan itu memenuhi separuh dari buku tulisku. Aizen-sensei memanggilku, lalu membaca tulisan di buku tulisku dan memberikan nilai di sana.

"Kuchiki, sensei yakin suatu saat ayahmu akan datang untuk mengambil rapormu," ia menghapus air mata di sudut matanya.

"Aku akan menunggunya!" jawabku semangat.

Aizen-sensei pun mempersilahkan aku duduk, dan aku menurutinya. Hinamori, teman sebangkuku memujiku, dan hanya ku tanggapi dengan senyuman.


Beberapa bulan kemudian...

Satu hari sebelum pembagian rapor. Aku menemui ayahku, Byakuya Kuchiki, di ruangan kerjanya. Sebenarnya sungguh aku sangat takut awalnya, namun akhirnya aku memberanikan diri dengan sekuat tenaga.

"Ayah."

"Hn?"

"Besok Rukia dapat rapor."

"Ya."

"Rukia belum bilang pada ibu."

"Bilang padanya."

"Rukia ingin ayah..."

"Ayah sibuk."

"Hanya sebentar, Yah."

"Ayah sibuk."

"Tak bisa walau hanya sebentar?" pintaku setengah memohon.

"Tidak."

"Rukia mohon..."

"Jangan ganggu ayah," ucapnya tegas.

Aku pun mengalah dan keluar dari ruangan kerjanya. Jika ayah berkata begitu, itu artinya ia benar-benar sibuk dan tidak ingin diganggu. Aku amat kesal, ingin sekali marah pada ayah, namun aku tahu, percuma saja. Akhirnya aku kembali ke kamar dan menangis sejadi-jadinya di sana.

Aku sunggu tak tahu apa yang membuatku amat sedih seperti ini. Air mataku mengalir begitu saja saking kesalnya. Tak lama kemudian, ibuku, Hisana Kuchiki, masuk ke dalam kamarku.

"Kenapa, Rukia?"

"Ayah tak bisa mengambil rapor Rukia lagi, bu."

"Ya sudah, kalau begitu, biar ibu yang ambil."

"Rukia nggak mau! Rukia mau ayah yang ambil!"

"Rukia, mengertilah kalau ayah sibuk."

"Sebentar, bu... Hanya mengambil rapor, lalu ayah kan bisa pergi!" aku menangis sesengukan.

"Cup cup, sayang," ibu memelukku dengan sayang.

Entah berapa lama hingga akhirnya aku berhenti menangis dan tertidur di pelukan ibu. Aku tahu, ayahku tak akan pernah sempat untuk mengambil raporku. Tak akan.


Keesokan harinya...

Benar. Ayah tak ada diruang kerjanya. Ayah juga tak ada di ruangan manapun di dalam rumah. Pastilah ia sudah berangkat kerja dan sibuk dengan kertas-kertas yang berisi pekerjaan. Ada meeting atau semacamnya yang tak dapat aku mengerti.

Aku pun berangkat ke sekolah untuk mengambil rapor bersama dengan ibu. Sama seperti tahun sebelumnya, ayah tak sempat mengambil raporku. Aku menunduk lesu di dalam mobil, rasanya tak semangat sekali.

"Rukia, ayo tersenyum," pinta ibu.

Kali ini aku tak mengindahkannya, aku tetap menunduk lesu sambil memainkan ujung rok terusanku. Hingga sampai di depan gerbang sekolahku pun, aku tetap begitu. Rasanya aku ingin menangis lagi.

"Kesal datang ke sini kalau ternyata putriku berwajah sedih begitu."

Itu...

"Ayah?"

Ya, di depanku berdiri ayahku, pria bertubuh tinggi tegap dan berambut hitam panjang. Aku menghambur memeluknya dengan erat, lalu tersenyum lebar kepadanya. Ia hanya membalasnya dengan senyuman kecil, lalu menggendongku.

"Udah nggak cemberut lagi, kan?" tanya ibu.

"Nggak!" jawabku.

"Kenapa murung?" tanya ayah.

Aku tak menjawabnya, hanya tersipu karena tak mungkin aku menjawab kalau aku sedih karena ayah tak bisa mengambil raporku. Ayah mencubit pipiku pelan lalu berjalan dengan aku di gendongannya menuju ke kelasku.

Aizen-sensei, wali kelasku sudah duduk manis di meja guru dan tersenyum saat aku, ibu dan ayah masuk ke kelas. Setelah itu, kami pun duduk di salah satu kursi kelas sambil menunggu namaku dipanggil.

"Grimmjow Jeagerjaques"

"Hisagi Shuuhei."

"Ichigo Kurosaki."

"Michiru Ogawa."

"Ise Nanao."

"Nemu Kurotsuchi."

"Orihime Inoue"

"Rukia Kuchiki."

Ayah bangkit dari tempat duduknya sambil memegang tanganku untuk berjalan bersama dengannya. Ibu pun mengikuti di belakang kami. Ayah duduk di kursi tepat di depan Aizen-sensei sambil memangkuku.

"Wah, wah, Rukia ranking satu lagi, ya?" tanya Aizen-sensei.

"Iya?" tanyaku balik.

"Ya. Selamat ya, Rukia!"

"Hebat sekali, ini baru putriku," kata ayah.

"Sepertinya, cita-citamu sudah tercapai, Rukia," ucap Aizen-sensei.

"Ya, sensei!" jawabku sambil tersenyum.

Ayah pun menanda tangani daftar hadir dan mengambil raporku. Setelah mengucapkan terima kasih, kami pun kembali pulang ke rumah bersama-sama. Di jalan, ibu membisikkan sesuatu padaku. Mau tahu?

Sebenarnya, ayah melihat buku pekerjaanku yang berisi tentang cita-citaku. Ayah juga yang sering membetulkan pekerjaan rumahku jika aku pulang ke rumah. Lalu, kemarin ayah nyaris menangis karena mendengar aku menangis di kamar saking sedihnya. Namun akhirnya, ayah meminta ibu untuk menghiburku.

Ayah, Rukia sayang pada ayah!

~OWARI~

Read More......

King

-King-
Disclaimer : Bleach © Tite Kubo
Rated : T
Genre : Friendship/Hurt/Comfort
Pairing(s) : -
WARNING : typo(s), (sedikit) OOC, black is Zangetsu's POV, white is Hichigo's POV
Summary : Ya, Ichigo, kau adalah raja di dunia ini. Jadilah lebih kuat dan tetap percayalah pada kami.


He's strong... Zangetsu... train him well... because one day, that power will become all mine. (Dark Ichigo)


-Black-

Dari awal aku tahu kalau masterku adalah orang yang agak sembrono dan sering turun ke medan perang tanpa strategi. Polos, apa adanya, namun berkeinginan kuat untuk menang dan emosinya mudah terpancing ketika orang yang ia kasihi di sakiti. Ya, aku tahu, ia masih sangat labil karena usianya yang jauh lebih muda daripada aku. Tapi, yang tidak ku mengerti adalah si putih yang merupakan bagian dariku jika Ichigo percaya padaku, namun jika Ichigo tidak lagi percaya padaku, aku yang akan menjadi bagian darinya. Siapa dia? Hichigo.

Aku tak pernah kesepian sedikit pun walaupun harus tinggal sendirian di inner world Ichigo. Sendirian? Sepertinya tidak juga. Kau pasti bisa menebak, kan? Ya, aku tetap di sini bersama dengan Hichigo.

Sebentar, hari ini cuaca mendung, menandakan kalau akan segera turun hujan. Ini berarti Ichigo sedang gusar dan bimbang. Ku lirik seseorang yang ada di dekatku, ia sedang mengutak atik sebilah pedang, entah mau ia apakan. Tapi selanjutnya, hal itu membuatku tertarik.

"Apa itu, Hichigo?"

"Ini? Pedang."

"Aku tahu. Untuk apa?"

"Apa ya? Ng, melawan King?" jawabnya asal.

Melawan King? Maksudnya melawan Ichigo? Lucu sekali. Ia cepat mengetahui kalau masternya akan segera kalah. Ya, Ichigo, ini karena kau ragu-ragu dan menyimpan rasa takut entah pada siapa. Bodoh. Hanya Kenpachi Zaraki saja, kan? Lalu kenapa kau takut?

"Hei, Zangetsu! Lebih baik kau hampiri dia."

"Untuk apa?"

"Bodoh! Kalau dia mati bagaimana?"

"Benar juga."

Makhluk putih itu tersenyum menyeringai, mengerikan. Tapi aku sama sekali tak takut padanya. Akhirnya aku pun memutuskan untuk menghampiri Ichigo dan menolong anak itu di dunianya. Benar saja. Seandainya aku terlambat satu detik saja, mungkin ia sudah mati.

"Ichigo, untuk apa kau bertarung? Apa untuk bertahan hidup?"

"Bertahan hidup? Bertahan hidup saja tidak cukup, aku ingin menang!" aku dapat mendengar jelas jeritan hatinya.

Akhirnya aku memutuskan untuk membawanya ke duniaku, inner worldnya. Hichigo sudah selesai mengutak atik pedang yang tadi ia katakan akan ia gunakan untuk melawan Ichigo. Ku lemparkan pedang itu pada Ichigo, lalu menyuruhnya bertarung. Melawan siapa? Tentu saja melawannya.


-White-

Yeah! Rasanya aku ingin berteriak senang ketika Zangetsu mengizinkanku untuk menggunakannya ketika melawan si payah ini. Si payah yang harus ku panggil dengan sebutan King. Oke, aku takkan memanggilnya King sekarang, terlalu formal dan akan membuatnya besar kepala. Partner saja sudah cukup, kan?

"S-si-siapa, kau?"

"Aku? Aku adalah kau, partner!"

"Kau? Itu? Zangetsu-ku!"

"Zangetsu-mu? Hei, partner, apa jika kau baru mengenal seseorang, kau akan langsung memilikinya? Tidak, kan?"

King terdiam. Oh, ayolah! Jangan pasang tampang bodoh begitu, ku tusuk, ya? Aku pun menyeringai senang sambil memutar Zangetsu dan sesekali mengarahkannya pada King. Ayo, King! Percaya pada Zangetsu dan kau akan menang! Percaya pada Zangetsu dan langit inner worldmu akan kembali cerah! Ayo, King! Buang rasa takutmu yang tak berguna, itu!

King dengan cepat menghindari seranganku yang terus menerus padanya. Sesekali ia melirik Zangetsu dan menatap sebal padaku. Hahahaha... Ini mengasyikkan sekali! Ingin rasanya lebih lama bertarung dengannya jika seperti ini. Ku ulangi lagi menyerangnya dengan cara melempar mata zanpakutonya, Zangetsu.

Namun...

Trang!

Yah, rupanya Zangetsu sudah kembali padanya. Sebal sih karena kehilangan keasyikan melawannya, tapi, ya sudahlah. Toh langit sudah kembali cerah lagi dan King sudah kembali ke dunianya, keluar dari inner worldnya.

"Maaf sudah merepotkanmu."

"Tak apa."

"Cara bertarungmu berbeda, seolah kau sudah mengerti dia."

"Tidak tidak, tak ada satupun dari kita yang mengerti bagaimana King, Zangetsu!"

"Kau salah, Hichigo, justru kita yang paling mengerti Ichigo karena kita yang terdekat dengan hatinya."

"Kau naif. Tapi, terserah kau saja. Urusannya sudah selesai, kan? Cepat pulangkan aku!"

"Baiklah."

"Ng, Zangetsu?"

"Apa?"

"Dia kuat. Kau harus melatihnya dengan baik, karena suatu saat, kekuatannya akan menjadi milikku."

"Ya."

Aku pun kembali padanya. Zangetsu. Baiklah, kali ini kan ia lebih kuat daripada aku, jadi akulah yang menjadi bagian dari dirinya. Selain itu juga, King masih percaya padanya dan belum membutuhkanku.


-Black-

Baiklah Ichigo, sekarang tinggal bagaimana kau akan menggunakan aku. Aku percaya padamu dan kau boleh menggunakan kekuatanku sesuka hatimu untuk melawan musuh yang ada di hadapanmu. Ia hanya sendiri, kan? Kenpachi Zaraki sekarang berdiri sendiri di hadapanmu dan apakah itu membangkitkan semangat bertarungmu? Ku harap iya.

Aku dapat melihat kau menggunakanku dengan agak ragu, sesekali takut karena Kenpachi tidak jatuh walaupin kau tebas berkali kali. Sesekali kau merasa sedikit sesak karena reiatsu yang dikeluarkan oleh Kenpachi ketika ia melepas penutup mata kanannya.

Jangan takut, Ichigo! Jangan ragu! Maju dan kalahkan dia. Percayalah, kau tidak bertarung sendirian, masih ada aku yang akan menolongmu untuk menang. Aku pun jadi merasa berkewajiban untuk menolongnya menang. Tidak lucu, kan, di saat-saat genting seperti ini, ia harus mati?

Deg!

Aku dapat merasakan degupan jantung Ichigo yang makin kuat.

Deg!

Oh, bukan hanya degupan jantungnya, tapi si putih juga. Apa yang mau kau lakukan, Hichigo? Apa saat ini kau akan keluar? Kau bisa membunuhnya!

Deg!

Tidak, aku harus menahannya agar tidak keluar, selain untuk keselamatan Ichigo, Hichigo juga harus menyimpan kekuatannya untuk melawan kapten lain. Aku pun terpaksa muncul lagi untuk meyakinkan Ichigo bahwa ia bisa menghabisi Kenpachi Zaraki dalam satu tebasan.

"Aku sudah kehabisan tenaga untuk menghentikan pendarahanmu, Ichigo," kataku berbohong, aku tak mungkin selemah itu.

"Ya, kupinjamkan kekuatanku, gunakan sesukamu dan bantu aku."

"Baiklah. Kita habisi dalam satu serangan."

Tekadnya kuat, bulat. Aku dapat melihat reiatsu keduanya kini seimbang. Mereka berdua akhirnya maju bersama, terus melangkah dengan cepat dan akhirnya...

BLAR!

Keduanya tumbang. Ichigo tumbang lebih dulu, namun tak lama kemudian, Kenpachi menyusulnya dan mungkin memang bisa dibilang, ia kalah. Walau sama-sama terluka, walau sama-sama tak sadarkan diri.


-White-

Sudah berapa lama aku tak diizinkan keluar oleh Zangetsu? Sehari? Dua hari? Satu minggu? Aku tak tahu karena sense waktuku agak kacau kalau sedang berada bersama dengan pria tua itu. Menyebalkan sekali, aku tak boleh melihat King bertarung.

Baiklah, sekarang ia mengizinkanku keluar, dan kau tahu, apa yang ku lihat? King sudah mendapat bankainya dan sekarang tengah melawan Byakuya Kuchiki. Cih! Aku ingat dia. Dia itu orang yang sempat nyaris mengambil kekuatan shinigami King. Untung saja itu hanya kekuatan shinigami adiknya, Rukia Kuchiki.

"Jadi, kenapa kau memanggilku?" tanyaku pada Zangetsu.

"Perlu ku jelaskan?"

"Oh, tidak juga. Aku sudah terlanjur mengerti."

"Bagus kalau begitu."

"Apa kau benar-benar melatihnya selama aku tak ada?"

"Sesuai permintaanmu, kan?"

"Belum, ia masih payah."

"Makanya aku memanggilmu."

"Benar juga. Tak apa kalau ia tak percaya lagi padamu?" tanyaku sambil tersenyum menyeringai.

"..." tak ada jawaban, namun aku dapat melihat wajahnya yang tetap percaya pada King.

Benar. Sampai kapanpun kami berdua adalah kekuatannya. Sekuat apapun tenaga King untuk mau menolaknya, ia tak akan mungkin bisa menghilangkan aku ataupun Zangetsu. Karena ini adalah takdirnya, kan? Jadi, kami pun harus percaya pada King, agar ia dapat percaya pada kami.

"Menggelikan," komentarku, yang tentu saja tak ditanggapi Zangetsu.

Kau tahu? King kalah. King kalah lagi pada Byakuya setelah bersikeras dapat menang melawannya. Oh, ayolah! Jangan pasang wajah kalah begitu. Kau belum sepenuhnya kalah, berpikirlah untuk jadi lebih kuat, kau masih punya aku, King! Percayalah padaku.

Deg!

Ah, degupan ini, bagai simfoni indah yang perlahan bergemuruh di dadaku. Berarti sebentar lagi waktunya.

Deg!

Lagi? Oke, sekali lagi dan aku tahu bahwa aku akan bisa melawan Byakuya. Kau sudah terdesak, King.

Deg!

Selamat tinggal, inner world! Byakuya, inilah saat-saat kekalahanmu!


-Normal POV-

Inner world Ichigo, saat Hichigo melawan Byakuya.

Ichigo perlahan membuka matanya, tersadar, ia berada di inner worldnya, terlentang. Laki-laki berambut oranye itu pun bangkit duduk dan menoleh. Ada Zangetsu di sana, seperti biasa, berdiri tenang, sesekali angin meniup lembut rambut lebat dan baju hitamnya.

"Kenapa kau membawaku ke sini, paman Zangetsu? Ini bukan waktu yang tepat."

"Bukan aku."

"Lalu?"

"Dirimu sendiri."

"Aku?"

"Apa yang kau inginkan tadi saat melawan Byakuya?"

"Aku ingin menang, aku ingin jauh lebih kuat."

"Karena itu kau ke sini."

"Aku masih tak mengerti."

"Kenalilah kekuatanmu sendiri, Ichigo. Kau tak hanya punya aku, tapi juga dia, yang kemarin memanggilmu partner."

"Dia?" mata hazel Ichigo membulat sempurna.

"Ya. Sekarang dia yang melawan Byakuya."

"Tidak! Aku ingin kembali!" berontak Ichigo.

"Kembalilah, itu tubuhmu."

Ichigo memejamkan matanya lagi, kali ini tidak semudah pertama kali Zangetsu membawanya kembali dari dalam inner world, ke dunianya. Ini sulit, seolah ada sesuatu yang menahan Ichigo sehingga tak bisa kembali ke tubuhnya. Ichigo berontak dan mencoba sekuat tenaga untuk merajai kembali hatinya.

"Jangan mengganggu, partner! Kita hampir menang!" sahut Hichigo.

"Diam dan kembalilah! Enyah kau!"

"Tch, kau ini membosankan."

Hichigo pun kembali ke inner world Ichigo, nyaris terlempar karena Ichigo menolak keras Hichigo untuk merajai hatinya dan menguasai pikirannya. Hichigo menghela nafas panjang, lalu melirik Zangetsu.

"Kau persis seperti dia."

"King? Jangan bodoh, Zangetsu!"

"Kau kecewa?"

"Tidak. Sudahlah, biarkan saja, nanti juga akan membutuhkanku lagi."

"Baik."

"Pulangkan aku!"

"Hichigo. Dia tahu, dia tahu kalau dirinya memiliki aku dan kau."

"Baguslah, dia kan raja kita. King," ujar Hichigo sambil menyeringai.

'Ya, Ichigo, kau adalah raja di dunia ini. Jadilah lebih kuat dan tetap percayalah pada kami.'

.

.

~O W A R I~

.

.


Read More......

Different Love

-Different Love-
Disclaimer : Bleach © Tite Kubo
Rated : T
Genre : Romance/Hurt/Comfort
Pairing(s) : IsshinMasaki
WARNING : typo(s), (sedikit) OOC, gaje, all of this story is Isshin's POV
Summary : Kau tahu, Ichigo menjadi shinigami yang begitu hebat. Masaki, ku rasa, aku jadi sangat rindu padamu...


Kau cantik...
Bagai seorang dewi...

.

.

Karakura. Di kota kecil ini aku mendapat tugas untuk meng-konshou beberapa arwah yang merepotkan. Juga aku harus membasmi hollow yang menyerang di kota ini. Yah, tugas shinigami itu memang sangat membuat repot.

Dingin. Malam ini udara dingin begitu menusuk tulangku. Hingga aku sendiri saja tak bisa menahannya. Ku rapatkan kedua tangan di depan dadaku. Kini aku berdiri menunggu seseorang di atas atap rumahnya. Ah ya, aku subtitut shinigami-yang sangat-kebetulan baru saja diangkat menjadi kapten, Isshin Kurosaki. Tadinya aku malas sekali untuk tinggal di kota kecil seperti ini, tapi sayangnya ada yang menarik perhatianku.

Cklek.

Orang yang aku tunggu akhirnya menampakkan diri. Dia. Seorang dewi dengan rambut oranye kalem baru saja keluar dari rumahnya dengan senyum mengembang di wajahnya. Namanya Masaki. Sungguh, sangat menggembirakan dapat melihat wajahnya.

"Isshin? Apa kau di situ?"

Bruk!

Aku terjatuh dari atap karena terkejut, ternyata ia dapat merasakan kehadiranku. Astaga. Ternyata dekat dengan seorang shinigami itu cukup untuk membuat instingmu bertambah kuat, ya? Aku hanya menggaruk belakang kepalaku yang tidak gatal sambil tertawa.

"Hehehe... Kau hebat, Masaki. Aku bangga!" aku mengacungkan jempol.

"Oh? Hihihi..." Masaki tertawa kecil. Kami-sama, ia manis sekali.

"Anoo... Aku..." aku kehabisan kata-kata. Seseorang, tolong aku!

"Kau mau jalan-jalan malam bersamaku?"

"Eh? Tentu saja! Dengan senang hati, Hime," aku membungkukan badan.

Masaki tersenyum lagi. Aku amat senang melihat senyumnya. Setidaknya, ia satu-satunya orang yang bisa melihatku dalam wujud shinigami saat ini. Reiatsunya memang seperti orang biasa, namun siapa sangka kalau ternyata ia begitu hebat. Ya, di mataku, ia satu-satunya orang yang menawan.

.

.

Seperti rembulan yang menyinari malam
Kau menyinari hatiku dengan senyummu

.

.

Dua tahun sudah aku memperhatikan Masaki. Kadang ia menyadari kehadiranku, kadang tidak. Tapi melihat senyumnya setiap malam, itu sudah lebih dari cukup menurutku. Melihat setiap gerak geriknya juga sangat menarik hatiku.

Malam ini, aku tak bisa menemuinya karena harus bertemu dengan seseorang. Laki-laki dengan wajah tak bersemangat, rambut pirang dengan poninya-yang menurutku-persis sungut kecoak. Ia tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu besar di Rukongai Barat. Tapi jangan salah, ia adalah shinigami yang cerdas. Kisuke Urahara.

"Jadi?"

"Saya buatkan gigai khusus untuk anda. Tak ada seorang shinigami pun yang akan menyadari kehadiran anda. Tapi..." ia seolah sengaja memotong kata-katanya.

"Apa?"

"Anda harus memakai gigai itu untuk jangka waktu yang lama."

"Maksudmu?"

"Gigai ini lama kelamaan akan merubahmu jadi seperti manusia biasa."

"Oh ya, ya, ya. Baiklah."

"Kalau anda jadi menikah, jangan lupa untuk mengundang saya, ya," Urahara berjalan memasuki sebuah ruangan.

"Aku janji takkan mengundangmu," jawabku sambil mengikuti langkah Urahara.

Akhirnya kami sampai di ruangannya. Urahara memperlihatkan gigai buatannya. Tentu saja memang seperti kopian dari diriku, sama persis. Aku memegangnya, bahannya memang seperti yang dikatakan Urahara tadi. Perlahan-lahan akan menyerap reiatsuku.

"Jadi? Anda benar-benar mau menggunakannya?"

"Ya. Aku akan menggunakannya."

"Hn? Baiklah kalau begitu."

"Arigato, Kisuke!"

Pria itu tersenyum padaku lalu menyiapkan gigai yang tergeletak di sebuah alas tidur di lantai. Aku akhirnya memasuki gigai itu, lalu mencoba menggerak-gerakannya. Rasanya agak sedikit aneh, tapi aku yakin lama-lama aku pasti akan terbiasa.

"Saya pasti akan merindukan cara pengobatan anda."

"Kau kurang ajar. Bukannya merindukanku."

Urahara tertawa renyah, lalu mengantarku keluar dari rumahnya. Ya, setelah ini sepertinya aku akan memulai hari-hariku lagi sebagai seorang manusia biasa. Kini aku bisa bebas menemui Masaki kapan pun tanpa harus sembunyi.

"Gantikan aku, Kisuke. Jadilah kapten."

"Aku? Ah, anda bercanda."

"Kau berbakat," kataku sambil menepuk bahunya.

Aku tahu ia adalah shinigami yang berbakat. Senangnya dapat memakai gigai ini, meski memang Kisuke jadi harus melanggar peraturan yang dikeluarkan oleh Soul Society, tempat yang terlalu formal dan penuh dengan aturan itu. Masaki, aku datang!

.

.

Menyentuh lembut tanganmu adalah mimpi
Mimpi indah yang menjadi kenyataan manis

.

.

Langit berwarna keemasan saat aku tengah duduk di pinggir sungai. Matahari sudah akan kembali ke singgasananya saat ini, perlahan-lahan, menentramkan. Angin bertiup lembut, seolah berbisik dalam hatiku dengan amat sangat pelan. Di sampingku duduk seorang wanita cantik yang wajahnya selalu dihiasi oleh senyuman. Ya, Masaki.

Sebenarnya kalau sedang begini, aku merasa amat grogi sekali. Aku merogoh saku celanaku, mengeluarkan benda berbentuk kotak. Kotak rokok. Dari dalamnya aku mengeluarkan sepuntung, lalu menyalakannya dengan menggunakan korek api. Tiga bulan dalam gigai ini, cukup untuk membuatku mengenal berbagai macam benda.

Aku menghisap rokok itu. Kau tahu, salah seorang temanku pernah bilang padaku kalau kau bisa menghisap sebatang rokok, kau akan tampak keren. Memang kedengarannya aneh, tapi mungkin itu perlu di coba.

"Isshin."

"Hm?"

"Kau tampak keren saat menghisap rokok."

"Eh?" aku tertegun.

Masaki tersenyum lagi, ah, gadis yang murah senyum. Aku ingat sekali, ini adalah kali pertamanya memujiku. Aku melompat gembira di dekatnya hingga tak sadar membuang puntung rokok yang ada di tanganku. Mata hazel Masaki membulat sempurna melihat tingkahku.

Aku memang tak bisa berpura-pura jaga image seperti laki-laki lain di depan orang yang aku sukai. Aku lebih suka mereka tahu apa perasaanku dan apa yang ada di dalam hatiku.

"Isshin."

"Ya, Masaki?"

"Kau bilang tadi kau mau bicara penting."

"Penting, ya. Aku tak tahu ini penting atau tidak bagimu," aku kembali duduk di dekatnya.

Dari raut wajahnya tampak kebingungan, tapi selanjutnya ia menunjukkan kalau ia ingin tahu. Perlahan aku memberanikan diri untuk memegang tangannya. Kami-sama, sungguh dadaku bergemuruh hebat, apa ada badai di dalam?

"Menikahlah denganku."

"Isshin?" ia malah menatapku bingung.

"Maukah kau menikah denganku, Masaki?"

"..." ia diam, ini saat pertama Masaki diam.

"Masaki, sungguh, kalau kau menolakku, aku takkan..."

Masaki meletakkan telunjuknya di bibirku, lalu melepaskan genggaman tanganku. Aku merasa, sepertinya memang aku harus menerima kekecewaan dalam hatiku. Namun, ternyata aku salah, Masaki memelukku dengan erat.

"Aku mau menikah denganmu," bisiknya.

Ia menerima lamaranku. Sungguh. Ia menerima lamaranku. Jika semua ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan, ini adalah kenyataan yang manis. Rasanya tak ada lagi hal yang membuatku lebih bahagia selain Masaki yang menerima lamaranku.

.

.

Kamu adalah permata yang tak ternilai harganya
Aku rela membayarnya dengan nyawaku

.

.

Empat tahun itu sepertinya waktu yang tak sebentar, kini aku dan Masaki memiliki seorang anak bernama Ichigo Kurosaki, dan dalam perut Masaki masih ada bayi lagi. Ichigo akan segera memiliki adik. Anakku Ichigo adalah anak yang cengeng dan sangat manja pada ibunya. Tapi itu juga yang membuatku ingin selalu melindungi keluargaku.

Hari ini Masaki terlihat sibuk di dapur, ia sedang memasak makan malam untukku dan Ichigo. Terlihat Ichigo membantu menata alat makan di atas meja, sementara aku sibuk menggodanya.

"I...chi...go..." aku menepuk tangan ke atas kepalaku.

"Otto-san!" Ichigo terlihat terganggu, lalu mendorongku.

"Okaa-san, lihat anakmu sangat tega kepadaku."

Masaki hanya tersenyum melihat tingkahku. Apalagi? Apalagi yang akan dilakukannya selain tersenyum. Tidak ada, bukan? Ia memang sangat senang tersenyum, bahkan aku jarang melihatnya menangis. Terakhir ku lihat ia menangis adalah saat melahirkan Ichigo empat tahun yang lalu.

Ichigo pun membantu membawakan makanan ke atas meja makan, sementara aku hanya memperhatikan anak dan istriku. Setelah selesai, Masaki meletakkan panci untuk memasaknya tadi ke dalam wastafel, sementara aku pun mendekatinya, berjongkok di dekatnya.

"Hei, kalian sedang apa di dalam?" aku mengelus perut Masaki.

"..." tak ada jawaban, namun aku merasa ada yang menendang dari dalam, Masaki meringis pelan.

"Sakit, ya? Hei, kalian ini nakal!"

"Tou-san curaaaaang! Aku mau dengar! Aku mau dengar!" Ichigo merengek sambil menarik narik bajuku.

"Hei, hei, aku belum selesai bicara pada adikmu."

"Aaaah..., aku juga mau dengaaar!" Ichigo semakin erat menarik bajuku.

"Tch. Baiklah."

Aku pun bangkit berdiri, membiarkan jagoan kecilku puas mengelus perut ibunya. Tinggi Ichigo memang tak sampai sepinggangku, namun ia sama keras kepalanya seperti aku. Masaki mengelus rambut oranye Ichigo yang mirip dengannya, lalu mengecup pipiku. Setelahnya, ia meletakkan telunjuk di bibirku, mengisyaratkan untuk tidak melompat kegirangan.

"Nah, sekarang, ayo kita makan malam," ajaknya.

"Ya!" aku dan Ichigo meninju ke udara.

Kami-sama, sungguh ini kebahagiaan yang tidak ternilai. Aku punya Masaki, Ichigo, dan sebentar lagi ada anak kembar yang akan meramaikan rumah kecil kami. Keluarga kecil kami, Kurosaki.

.

.

Kau bagai matahari, pusat segalanya
Sementara aku hanya sanggup mengelilingimu, melindungimu

.

.

Rasanya, aku ingat baru kemarin aku jadi ayah dari seorang anak. Tapi nyatanya hari ini aku telah menjadi seorang ayah dari tiga orang anak. Anak kembarku sudah lahir dua tahun yang lalu, dan kini mereka sedang lucu-lucunya. Karin Kurosaki dan Yuzu Kurosaki.

Karin mewarisi wajahku, sementara Yuzu mewarisi wajah ibunya yang kalem, untuk rambutnya yang pirang itu, kurasa karena gen campuran antara aku dan Masaki. Oke oke, bukan saatnya mempermasalahkan itu. Aku yakin Masaki tak berselingkuh dengan siapa pun sehingga kami punya anak dengan rambut pirang begitu.

Hari ini aku dan keluargaku memutuskan untuk berlibur ke pantai. Yeah, pantai! Saatnya bersenang-senang dengan air dan juga semangka. Tentu saja, tak asyik, kan, kalau di pantai kita tak bermain pukul semangka atau membuat istana pasir?

"Ya, anak-anak, sekarang kita lakukan pemanasan!" seruku sambil meninju ke udara.

Ichigo tampak menoleh malas, aku pun menggodanya dengan mencubit pipinya itu. Tentu saja Ichigo langsung naik darah dan memukul-mukul tubuhku. Sementara kedua putriku sepertinya tertarik dengan yang dilakukan kakaknya, akhirnya menghampiriku. Aku pun berlari-lari kecil karena dikejar oleh mereka.

"Anak-anak, sudah, ayo sini pakai sun block kalian."

"Okaa-san!"

Ichigo, Karin, dan Yuzu berlari menghampiri ibu mereka, aku pun berjalan menghampiri Masaki. Mereka berempat asyik memakai sun block di tubuh mereka, sementara aku hanya memperhatikan. Selanjutnya, Masaki menyodorkan sunblock kepadaku.

"Nanti kalau kau hitam, aku jadi tidak suka padamu," godanya.

"Jangan begitu," aku menangis sambil memeluknya.

"Makanya pakai ini," ia menyodorkan sunblock.

Anak-anak membantuku untuk menggosok punggungku dengan sunblock. Termasuk si oranye kecil juga ikut membantuku. Setelah itu, kami pun bermain di pantai, membuat istana pasir dengan dibantu oleh Masaki. Sesekali aku menjahili Ichigo dengan memberinya kepiting kecil atau sekedar memainkan pasir. Yuzu membentuk istana pasir bersama Masaki, sementara Karin membawa air di ember kecil.

.

.

Jika saat itu ada dendam di hatiku
Adalah di saat aku tak bisa menyelamatkanmu

.

.

Aku berkutat dengan pasien yang sedang mengalami kondisi yang gawat darurat. Entahlah, ia sedang meregang nyawa, nyaris meninggal, dan aku tahu, aku dapat menggunakan kidouku untuk menolongnya. Tapi aku telah bersumpah untuk tidak menggunakannya semenjak aku menikah dengan Masaki. lagipula, kau tahu, kan, gigai ini...

Deg!

Cih! Perasaaan apa ini? Mengapa sangat tiba-tiba sekali? Hollow. Aku tahu itu hollow. Tapi di saat yang sama, aku juga merasakan reiatsu Ichigo dan Masaki yang tak jauh dari hollow itu. Kami-sama, apa yang akan terjadi pada istri dan anak sulungku? Kini di hadapanku ada seorang pasien yang harus ku tolong, tapi di saat yang sama pula, aku harus menolong anak dan istriku, mana yang harus ku tolong? Orang ini...

Deg! Deg! Deg!

Oh ya, tentu saja. Aku tahu kalau saatnya semakin dekat. Maafkan aku, Masaki. Sungguh, maafkan aku. Grand Fisher, ya, hollow yang ada di dekat istriku itu bukan hollow sembarangan yang mudah dimusnahkan. Aku bisa memusnahkannya dengan mudah, tapi kenapa? Aku mulai bekerja dengan peralatan sederhana di klinikku. Operasi kecil untuk menyelamatkan pemuda yang ada di hadapanku. Aku tak mengenalnya, tapi aku punya kewajiban untuk menyelamatkannya, karena aku seorang dokter.

Deg!

Masaki...

.

.

Ya, jika saat itu memang ada penyesalan
Bukan saat ini, tapi saat aku tak bisa menyelamatkanmu

.

.

Aku berdiri di depan makam Masaki sambil memegang payung dan menghisap sepuntung rokok. Hari ini hujan. 17 Juni lainnya yang harus ku hadapi dengan kepedihan yang dalam, sangat dalam di hatiku. Kini di sampingku berdiri seorang pemuda berambut oranye, usianya baru lima belas tahun, namun ia nampak berbeda. Berbeda dari beberapa tahun yang lalu, Masaki. Aku tahu ia bukan lagi anak cengeng yang akan meminta perlindungan ibunya. Ia keras seperti aku, tapi aku tak mirip dengannya! Ichigo Kurosaki.

"Kenapa?"

"Apa?"

"Kenapa tak ada yang menyalahkanku atas kematian Okaa-san? Kenapa?"

"..." aku mendengarkan tiap kata yang keluar dari si sulung.

"Waktu Okaa-san meninggal, juga sekarang pun, aku tak bisa apa-apa. Padahal bisa lebih lega kalau mau menyalahkanku! Kenapa?"

"Kenapa harus menyalahkanmu?" jawabku dengan wajah polos, berusaha menghiburnya.

"Ha?" Ichigo menatapku tak kalah polos.

"Kalau menyalahkanmu atas kematian Masaki, aku bisa dimarahi Masaki."

"..." sekarang gantian Ichigo yang diam.

"Bukan salah siapa-siapa kalau Masaki meninggal. Hanya saja, perempuan yang kucintai itu perempuan yang meninggal karena melindungi anaknya," lanjutku sambil tersenyum.

Ichigo memandangku dengan tatapan bingung. Kau tahu, hazelnya itu persis seperti milik ibunya, tenang, namun ada suatu beban yang tak ingin ia bagi pada siapa pun.

"Janagan lupa, Ichigo, kamu laki-laki yang dilindungi dengan taruhan nyawa... Oleh perempuan yang kucintai."

"Otto..."

Aku sebal melihat wajahnya yang sedih itu, aku tersenyum pun ia tak bergeming. Benar-benar anak yang sok keren! Aku pun melayangkan tendangan ke pinggang kirinya, agar ia bisa menunjukkan wajah sebalnya padaku.

"Ah, bikin kesal saja, kau!" tendanganku tepat mengenai pinggangnya.

Ya, ia pun menunjukkan wajah sebalnya padaku, sambil memegang pinggangnya yang kesakitan. Aku berbalik sambil menghisap puntung rokok di tanganku lagi. Berjalan meninggalkannya di dekat makam ibunya, aku tahu ada reiatsu lain, itu milik shinigami, mungkin teman Ichigo.

"Hiduplah sekuat tenaga, Ichigo. Hidup dan jadi tua sekuat tenaga. Jadi botak sekuat tenaga, dan mati setelah aku."

"..." tak ada jawaban.

"Lalu, kalau bisa, matilah dengan tersenyum. Kalau tidak, aku tidak punya muka untuk bertemu Masaki."

"..." tetap tak ada jawaban.

"Jangan menanggung sesuatu yang keren seperti kesedihan. Kamu masih terlalu muda."

Aku tak tahu apa yang ada di dalam pikiran Ichigo, aku juga tak tahu siapa shinigami yang datang dan dekat dengan Ichigo. Mungkin shinigami itu tinggal di rumahku, karena setiap hari aku merasakan reiatsunya. Siapa dia? Aku benar-benar tak tahu.

.

.

Aku shinigami, kau manusia
Jalan kita berbeda, namun cintalah yang menyatukan kita...

.

.

Masaki, anak kita shinigami, Ichigo Kurosaki, ia sama sepertiku, Masaki. Apa kau marah padaku karena ternyata selama ini aku membesarkan shinigami? Tolong jangan marah padaku. Marahi saja Kisuke Urahara yang membuatnya menjadi shinigami yang begitu hebat. Masaki, ku rasa, aku jadi sangat rindu padamu...

.

.

~ O W A R I ~

.

.

Read More......

Sweet Poison

-Sweet Poison-
Disclaimer : Bleach © Tite Kubo
Rated : T
Genre : Poetry/Romance
Pairing(s) : GinMatsu
WARNING : (sedikit) OOC, gaje, mellow total, oneshoot, all of this story is Rangiku's POV
Summary :
Gin, sampai kapan pun hatiku hanya untukmu, sampai kapan pun aku akan selalu menunggumu. Meski nanti kita harus mati bersama, atau mungkin aku yang kan mati di tanganmu


Gin

Ichimaru Gin

Nama itu nama yang aneh bagiku

Nama seseorang yang menolongku

Nama seseorang yang paling perduli padaku

Waktu itu…

Saat itu…

.

.

Kau yang paling mengenalku

Kau yang paling tahu tentang aku

Kau yang menyadarkanku bahwa aku tak sendiri

Kau yang memberi tahu kalau aku punya kekuatan

Kau yang memberi tahu kalau setiap orang butuh hari lahir

Agar kita selalu diingat

Agar kita dapat merasa istimewa

.

.

Gin

Senyum darimu

Setiap gerak gerikmu

Seolah menjadi racun bagiku

Racun yang membuatku tak bisa lepas darimu

Meski saat itu kau pergi

Meski saat itu kau tak pernah memberi alasan

.

.

Kecewa karena aku tak bisa menahanmu lebih lama

Maaf

Maaf? Maafku tak pernah hilang untukmu, Gin

Selalu kau yang ada dipikiranku.

Ironis memang

Aku begitu naïf, sangat naif

Kata-kata itu terpatri kuat dalam ingatanku

Bagai belati yang perlahan-lahan merobek hatiku

.

.

Gin

Apakah pernah sekali kau perduli padaku?

Apa pernah sekali saja terbesit wajahku di pikiranmu?

Aku ingin tahu Gin

Siapakah aku bagimu?

Sampah?

Teman?

Atau hanya pengganggu yang kau manfaatkan?

.

.

Pernahkah kau merasakan apa yang aku rasakan?

Sakit ketika kau tinggalkan

Berhari-hari aku harus terpuruk menunggumu

Berharap agar kau kembali

Berharap kau memperlihatkan senyummu lagi padaku

Berharap aka nada keajaiban yang membuatmu sadar

Kalau kekuatan bukanlah segalanya

Kalau Aizen salah

.

.

Gin

Aku tahu selama ini aku salah berharap

Harapan kosong yang mudah ditiup angin

Aku tak punya kekuatan apa-apa untuk mewujudkannya

Bahkan aku sendiri tak mampu menahanmu

Hanya mampu melihatmu puas bertarung

Puas melihat warna darah

Darah orang-orang yang pernah mempercayaimu

Darah orang-orang yang pernah kau hormati

Semua itu bagai manisan yang tak penting untukmu, kan?

.

.

Satu penjelasan mungkin takkan cukup bagiku

Begitu pun dengan dua tiga menit kau bersamaku

Atau empat lima langkah kau di dekatku

Meskipun ada tujuh delapan alasan mengapa aku menunggumu

Sembilan sepuluh detik kemudian kau pasti akan menghabisiku

Wajah sendumu

Ku pikir saat itu kau mengkhawatirkanku

Tapi ternyata aku salah

Kau menyerangku kan?

Atas dasar kesetiaanmu pada Aizen

.

.

Gin

Untuk terakhir kalinya

Ketahuilah

Kau adalah racun yang perlahan membunuhku dengan sikapmu

Tapi…

Sampai kapan pun hatiku hanya untukmu

Sampai kapan pun aku akan selalu menunggumu

Meski nanti kita harus mati bersama

Atau mungkin aku yang kan mati di tanganmu

Aku rela, Gin

.

.

~ O W A R I ~

.

.

Read More......